UU Minerba Menambah Kerusakan Alam, sasarannya anak-anak kecil

Saat ini kerusakan lingkungan semakin luas akibat pertambangan mineral dan batu bara. Dalam setahun terakhir banyak terjadi banjir besar di sekitar wilayah pertambangan batu bara, seperti di Bengkulu dan Kalimantan Timur

Jakarta-suara-merdeka.com, Saat DPR RI mengesahkan UU Mineral, saat itu pula  Kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam koalisi Bersihkan Indonesia yang mengatasnamakan Koordinator Nasional Jaringan Tambang (JATAM)  menggelar Sidang Rakyat Tandingan untuk membatalkan Undang-undang Mineral dan Batubara (Minerba) yang disahkan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani di gedung parlemen, Senayan, Jakarta.

Sidang Rakyat Tandingan ini berlangsung selama empat hari, mulai dari hari ini Jumat (29/5/2020) sampai  Senin (1/6/2020) mendatang.

Koordinator Nasional Jaringan Tambang  (JATAM) Merah Johansyah mengatakan, bahwa dalam persidangan yang dilakukan secara daring itu membahas UU Minerba  yang baru disahkan itu dibahas secara terburu-buru dan tanpa keterlibatan rakyat, serta naskah akademis juga tak jelas.

Ditambahkannya Dimana Rakyat tak bisa beraksi untuk unjuk rasa di senayan, karena rakyat masi dalam kondisi menghadapi mengantsipasi  pandemi Covid-19, Akan Tetapi bukan berarti tak bisa bersuara.

“Ini saatnya kita merapatkan barisan dan bersuara dalam sidang rakyat tandingan untuk membatalkan UU Minerba yang dibuat Pemerintah dan DPR untuk kepentingan investor,” kata Merah dalam pandangan umum.

Dia menyatakan, UU Minerba yang baru disahkan oleh DPR tidak memiliki legitimasi atau pengakuan dari rakyat Indonesia karena tidak memberikan ruang aspirasi dari rakyat dan tak transparan. Hampir seluruh pasal-pasal dalam UU tersebut merugikan rakyat terdampak yang berada di sekitar wilayah pertambangan dan merusak lingkungan.

“UU Minerba tersebut berangkat dari kantong-kantong para pengusaha tambang batu bara. Tak ada pasal-pasal yang melindungi rakyat dan ekologi,” kata dia.

Lanjut Johansyah Hingga saat ini kerusakan lingkungan semakin luas akibat pertambangan mineral dan batu bara. Dalam setahun terakhir banyak terjadi banjir besar di sekitar wilayah pertambangan batu bara, seperti di Bengkulu dan Kalimantan Timur.

Yang kemudian banyak anak-anak yang menjadi korban hingga meninggal dunia karena masuk dalam lubang-lubang bekas tambang di Kalimantan Timur. Berdasarkan catatan JATAM, sedikitnya ada 3.000 lebih lubang bekas tambang yang tidak diabaikan dan tidak di reklamasi oleh perusahaan tambang. Kemudian banyak masyarakat di sekitar PLTU yang terkena penyakit Ispa, hingga kini belum ada solusi dari pemerintah atas kasus-kasus tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *