Akibat Demo Rasinisme di AS, Banyak Tentara Tertular Virus Corona

AS-suara-merdeka.com,  Ancaman menyebarnya corona (Covid-19) di tengah demo besar kematian seorang warga Afrika-Amerika di AS, George Floyd,  rupanya jadi kenyataan. Aksi protes anti rasisme yang disebut gerakan ‘Black Lives Matter’ benar-benar jadi sumber penularan baru di AS.

Sebagaimana ditulis AFP dan CNBC, banyak pasukan Garda Nasional Washington DC dites positif terkena virus corona setelah ditempatkan di beberapa lokasi unjuk rasa. Garda Nasional adalah tentara cadangan di Pentagon yang bertugas di negara bagian.


Hal ini diungkap Juru Bicara Garda Nasional Washington DC Letnan Kolonel Brooke Davis mengatakan pada suara-merdeka.com pada Kamis pagi (11/6) . Namun ia tidak dapat mengungkapkan jumlah anggota yang tes positif untuk “keamanan operasional”.

Setidaknya 1.700 anggota dimobilisasi untuk berjaga selama protes atas pembunuhan Floyd di depan Gedung Putih dan di beberapa lokasi lain. Padahal, menurut Davis, para anggota yang berjaga sudah diskrining untuk COVID-19 sebelum dan setelah penempatan.


“Personel Garda Nasional menjauhkan diri dari kerumunan sosial dan tetap menggunakan APD (alat pelindung diri) di di seluruh penempatan,” kata Davis.

Dalam demo yang terjadi hampir sepekan lebih, tidak sedikit pengunjuk rasa bahkan petugas kepolisian, dan para penjaga yang tidak menegakan aturan untuk mengenakan masker wajah dan menjaga jarak. Sehingga penularan tidak bisa dihindarkan.

COVID-19 sendiri merenggut hampir 112.000 jiwa di AS awal tahun ini. Negeri Paman Sam sendiri menduduki posisi pertama dengan lebih dari 2 juta kasus dari total 7,2 juta kasus terjangkit di dunia.

Sebelumnya, para ahli kesehatan khawatir bahwa pertemuan massa yang banyak akan memicu kasus baru kembali naik. Apalagi masyarakat berdemo tanpa jarak sosial.

“Apa yang kita lihat (dari demo) adalah eksperimen yang sangat disayangkan, yakni penularan virus COVID,” kata Direktur Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di University of Minnesota Michael Osterholm, dikutip dari ABC News, pekan lalu.

Osterholm juga menyayangkan petugas polisi yang menembakkan gas air mata dan semprotan merica. Asap, gas air mata dan semprotan merica menyebabkan batuk. Batuk dapat menularkan aerosolisasi virus. Ini meningkatkan risiko penyebaran COVID-19.

Belum lagi, ada sekitar 5.600 demonstran yang ditangkap sebagaimana didata The Associated Press. Mereka akan memadati penjara dan duduk di dalam kendaraan dalam jarak dekat dan waktu yang lama.

Ini pastinya menimbulkan potensi kasus baru. Osterholm menjelaskan hal inilah yang dapat meningkatkan risiko penularan virus selanjutnya.


suara-meredeka.com | CNBC Indonesia 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *