Keluarga korban covid-19 di Italia, Menuntut Pemerintahnya

Italia – suara-merdeka.com,  Luka dan kecewa yang mendalam mendorong ratusan keluarga korban covid-19 di Italia Menuntut Pemerintahnya.

Gugatan mereka diajukan ke Kantor Kejaksaan di Kota Bergamo, Italia Utara, pada Rabu (10/6/) kemarin. Para keluarga korban ini mengecam pemerintah, pejabat di sektor kesehatan, dan politisi yang dinilai gagal menangani pandemi.

Gerakan ini diinisiasi oleh Komite hukum Noi Denunceremo. Mereka yang pertama maju adalah para keluarga dari korban jiwa covid-19 yang ingin bertarung karena orang yang mereka cintai wafat dalam keadaan tak menerima bantuan yang memadai.

Hingga Rabu kemarin, 50 dari 200 pengaduan yang sudah disiapkan sudah masuk ke meja kejaksaan.

Menurut data resmi, Bergamo yang berada di wilayah Lombardy utara t menjadi kota paling parah dilanda pandemi global ini, tercatat ada lebih dari 13.600 kasus virus corona dan lebih dari 3.000 kematian.


Keluarga-keluarga itu mengecam kegagalan pemerintah dalam mencegah penyebaran virus pada tahap-tahap awal darurat pandemi. Apalagi saat itu kawasan kota Bergamo dan Brescia belum dinyatakan sebagai zona merah.

Mereka juga menyoroti tanggung jawab oleh otoritas lokal dan pusat dalam menanggapi krisis, atas tuntutan ini Kejaksaan meminta para pengadu untuk lebih rinci mengidentifikasi pejabat yang mereka tuduh.

Presiden komite, Luca Fusco, menceritakan bahwa kegiatan ini dimulai secara spontan, dipicu kematian ayahnya yang terpapar COVID-19. Ketika itu, ia mencurahkan isi hatinya di halaman Facebook yang didedikasikan untuk keluarga para korban.


“Halaman itu segera meledak dan sekarang memiliki 56.000 anggota. Komite hukum mengubah kisah pribadi mereka menjadi keluhan hukum,” kata Fusco.

“Satu-satunya kendala kami adalah waktu, karena pengacara kami bekerja atas dasar sukarela.  Tapi kami akan menggali sampai bagian paling dalam dari cerita ini,” ungkapnya, dilansir dari Anadolu. 


Tidak hanya Fusco, Monica Piazzoli  juga menceritakan kisah kehilangan suaminya yang berusia 66 tahun karena Covid-19. Dia dirawat di rumah sakit Papa Giovanni di Bergamo, yang merupakan salah satu rumah sakit terbaik di daerah itu.


“Mereka menelepon saya dengan mengatakan dia akan meninggal dalam beberapa jam, tetapi itu terjadi hanya dalam 10 menit. Saya pun tidak punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal,” kata Piazzoli.


Dari hal itu, Piazzoli mengungkapkan dia telah kehilangan hak asasinya. Piazzoli juga menekankan bahwa dia tidak meminta kompensasi finansial atas kematian suaminya, tetapi hanya menuntut keadilan.

“Kami ingin mereka yang melakukan kesalahan besar mengakui tanggung jawab mereka. Tapi kami tidak menuntut dokter dan perawat, mereka adalah korban jug

CNBC Indonesia | suara-merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *