Ketua DPRD Raja Empat Diduga Melontarkan Ujaran Kebencian Dalam Bentuk Rasisme

JAKARTA -Saat Aksi Damai di Lakukan Aliansi AMPERA di Halaman DPRD Kabupaten Raja Empat Kamis (9/7), ada sikap tidak terpuji  Terjadi  kesalahan  yang  dilakukan  oleh  Ketua  DPRD  Raja  Ampat  yang  Notabane  Ketua  DPC  DEMOKRAT  Raja  Ampat,  dengan  melontarkan  bahasa  yang  bersifat  Ujaran  Kebencian  dan  Rasis  yang  ditujukan  kepada  Pimpinan  DPRD  dalam  hal  ini  Wakil  Ketua I  saudara  Reynold  M  Bula  dari  Partai  GOLKAR;

Ujaran  kebencian  yang  dimaksudkan  tanpa  sadar  mengajak  Masyarakat  Raja  Ampat  untuk  menolak/membenci  saudara  Reylold  M  Bula  Pimpinan DPRD Raja Empat dari Keturunan Cina.

Abraham  Umpain  Dimara  sebagai  Korlap  aksi  menilai  dalam  pernyataan  penyampain  Ketua  DPRD  Raja  Ampat  telah diduga melakukan Pernyataan Bersifat Rasisnisme  dengan bahasa “Tidak  boleh  ada  Pimpinan  DPRD  orang  cina  di  Raja  Ampat  seperti  Reynold.”  Seharusnya  Ketua  DPRD  Raja  Ampat  harus  Faham  bahwa  Lembaga  yang  dipimpinya  itu  adalah  Lembaga  Negara  bukan  Lembaga  Representatif  yang  merupakan  Perwakilan    Fraksi  OTSUS;

Ditambahkannya Ketua  DPRD  Raja  Ampat  seharusnya   mengadopsi  Ideologi  PANCASILA  dan  menerapkannya  dalam  Lembaga  Negara  bukan  memainkan  keterwakilan  isu  Propoganda  yang  bersifat  Kebencian  Rasisme;

Dia menyangkan Sikap Ketua DPRD Raja Empat  mencederai  nama  Lembaga  Negara  dan  Merusak  nama  baik  Oknum  Pimpinan  DPRD  Wakil  Ketua  I,  serta  Merusak  Nama  baik  Partai  GOLKAR , sementara  aksi  mereka   bukan  soal  Hak  Politik  melainkan  Anggaran  OTSUS  yang  selama  ini  diatur  tidak  tepat  sasaran  untuk  Orang  Asli  Papua  Khususnya  Raja  Ampat,  karena  ada  tudingan Anggaran  OTSUS  yang  di  pakai  untuk  perawatan  alat  berat  dan  dipakai  untuk  belanja  alat  musik  Tradisional  yang  diperuntukan di  berikan  kepada  Paguyuban  dari  luar  Papua  Raja  Ampat.

“Dan  salah  satu  tuntutan  kami  adalah  Hak-hak   Masyarakat  Hukum  Adat  Yang  telah  di  rusak  di  hancurkan  karena  pembangunan  jalan  Lingkar  Raja  Ampat  Pada  Tahun  2015,  yang  mana  sampai  hari  ini  tidak  pernah  terselesaikan  dan  menjadi  Konflik  Antara  Masyarakat  Adat  dengan  Pihak  PT. KALANAFAT PUTRA  sehingga  melibatkan  Lembaga  Aliansi  Indonesia  Badan  Penelitian  Aset  Negara,  Provinsi  Papua  Barat,

Dan  dalam  Orasi  tersebut  jelas  salah  satu  pengurus  dari  Lembaga  Aliansi  Indonesia  Badan  Penelitian  Aset  Negara  Martha.  E. Mentansan  Menegaskan  agar  DPRD  dan  Pemda  Raja  Ampat  Harus  Usut  tuntas  masalah  ini,  karena  kerusakan  yang  di  alami  masyarakat  adat  sangat  Fatal  dimana  Dusun  Sagu  dan  situs  Budaya  Milik  Masyarakat  Adat  Kampung  Yensner  Dusun  Wesan  di  hancurkan  tanpa  Ada  Kompensasi  ganti  Rugi.  Serta  masyarakat  didiskriminasi  oleh  Penguasa  umum  Yang  berada  di  Kabupaten  Raja  Ampat, “ Ujar Korlap Abraham kepada suara-merdeka.com. (Jhon)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *