Semangat Idhul Adha Kembali Ke Fitra Menuju Negara Indonesia Damai

PENULIS : R.Mas MH Agus Rugiarto SH

Memaknai Hari Raya Idhul Adha, yang perlu dipegang teguh adalah Manusia dan Bersyukur, sehingga metode Menanamkan diri kembali ke Fitra harus dipahami secara cerdas dan dimaknai sebagai manusia yang memiliki Fitra masing masing.

Kehidupan beragama di Indonesia merupakan Fitra masing masing , sehingga Pandangan Pancasila tentang Kemajemukan harus diartikan sebagai Aklamasi yang berlaku di Indonesia, yang beragam Budaya,Agama,Suku dan Adat Istiadat.

R Mas MH Agus Rugiarto SH biasa disapa Agus Floureze, Foto bersama Kakeknya Almarhum Iptu Pol (Purn) Andrias Ade

Di saat hari Raya Idhul Adha ini mari bersatu untuk menjadikan Fitra Kemajemukan Beragama,Suku,Budaya dan adat istiadat tetap terjaga.

Didalam kehidupan Kemajemukan di Indonesia, terlihat yang mengucapkan selamat Idhul Adha sebagiannya dari kalangan Non muslim, artinya kemajemukan beragama masih tetap terjaga Di Indonesia Ibu Pertiwi ini.

Masyarakat Indonesia Harus Bersyukur bahwa Negara Indonesia adalah Negara menjadi Percontohan sebagai Negara yang menganut paham kemajemukan beragama, suku, budaya dan adat istiadat, terlihat Pola Gotong Royong, Musyawarah mufakat masih tetap terjaga dalam suasana Covid-19.

Dimasa Covid-19 kalau dipahami sebagai Fitra keterbatasan manusia, dia akan tetap bersyukur dengan kondisi ini dan bukan mengeluh dengan adanya Covid-19.

Kondisi Covid 19 yang dialami masyarakat Indonesia tidak sebanding dengan apa yang menimpa Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il beserta keluarga mereka. 

Dalam penantian yang sangat lama hingga mencapai puncak usia 86 tahun, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam baru dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Isma’il. Setelah belahan jiwanya itu tumbuh dewasa menjadi seorang remaja, Allah memerintahkan kepada Baginda Nabi Ibrahim agar menyembelih putra yang sangat dicintai dan dinanti-nanti itu.

Apa sikap Nabi Ibrahim dan Isma’il menerima perintah itu? Dengan ketundukan yang total kepada Allah, Ibrahim bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada keraguan sedikit pun. Sang putra juga menyambut perintah itu dengan kepasrahan yang total tanpa ada protes sepatah kata pun. Subhanallah! Sebuah potret keluarga shalih yang lebih mengutamakan perintah Allah dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melaksanakan perintah Allah.

Dialog indah antara keduanya terekam dalam Al-Qur’an sebagaimana diceritakan oleh Allah:

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى (سورة الصافات:

١٠٢)

Maknanya: “….. Ibrahim berkata: “Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?”  (QS ash-Shaffat: 102). Sebagaimana kita tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu.

Sedangkan perkataan Nabi Ibrahim kepada putranya, “Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” bukanlah permintaan pendapat kepada putranya apakah perintah Allah itu akan dijalankan ataukah tidak, juga bukanlah sebuah keragu-raguan. Nabi Ibrahim hanya ingin mengetahui kemantapan hati putranya dalam menerima perintah Allah subhanahu wa ta’ala. 

Lalu dengan kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Isma’il menjawab dengan jawaban yang menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah jauh melebihi kecintaannya kepada jiwa dan dirinya sendiri:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (سورة الصافات: ١٠٢)

Maknanya: “Isma’il menjawab: “Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in sya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS ash-Shaffat: 102)

Jawaban Isma’il yang disertai “In sya Allah” menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terjadi.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Demi mendengar jawaban dari sang putra tercinta, Nabi Ibrahim lantas menciumnya dengan penuh kasih sayang sembari menangis terharu dan mengatakan kepada Isma’il:

نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ

Maknanya: “Engkaulah sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allah, duhai putraku” Nabi Ibrahim kemudian mulai menggerakkan pisau di atas leher Isma’il. Akan tetapi pisau itu sedikit pun tidak dapat melukai leher Isma’il.

Hal ini itu menjadikan contoh, kita harus bersyukur , walaupun kondisi Indonesia mengalami Dilema Covid-19, tidak perlu mengeluh, karena dibandingkan ujian dizaman zahiliyah, nyaris anak sendiri menjadi korban atas Perintah Allah SWT.

Yang lain adalah Kita harus bersyukur bahwa kemajemukan beragama,suku, budaya dan adat istiadat tetap terjaga.

Sehingga makna Hari Raya Idhul Adha 1442 harus dimaknai sebagai Fitra untuk bersyukur, dengan keterbatasan Fitra masing masing manusia.

Selamat Merayakan Idhul Adha 1441 Hijriah, Mohon maaf lahir dan Batin, jika ada kesalahan kami disengaja maupun tak disengaja mohon dimaafkan, dan mulai besok dan seterusnya kita kembali ke fitra . Aamiiin yarabbal alamin.

Salam Merdeka untuk Negeri Ibu Pertiwi, Indonesia Tanah Airku, mari kita berdamai untuk Negeri ini.

Tidak ada untungnya memperkeruh suasana, hanya berdampak kerugian besar dialami Individu masing masing.

Penulis adalah Ketua Umum LBH Phasivic Jakarta Pusat dan Penasehat FKPPI Jakarta Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *