Pemicu Kerusuhan di Kendari, diduga Ketersinggungan Suku

JAKARTA, Kamis Siang (17/9) Kembali Kendari mencekam. Kerusuhan terjadi, setelah sebelumnya ratusan orang melakukan demo. Kerusuhan tersebut mulai dari simpang empat lampu merah eks PGSD, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Dari video yang beredar yang ditayangkan Nasional Suara Merdeka.Com, terlihat polisi melakukan penembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Terluhat sejumlah orang yang berpakaian serba hitam memblokade jalan. Sehingga jalan tersebut tak bisa dilalui pengendara. Dan Massa tampak mulai anarkis saat melihat sejumlah pengendara mengambil foto kerusuhan.

Terlihat pula Ratusan orang melakukan pengrusakan sejumlah fasilitas umum. Marka jalan dicabut, toko-toko yang mereka lalui dilempar dan dihancurkan. Bunyi pecahan kaca terdengar dari sejumlah toko yang didekati para perusuh itu.

Akibatnya, sejumlah toko di kawasan Wuawua terpaksa ditutup. Apotek, Bank, dan toko lainnya menyelamatkan karyawannya khususnya perempuan ke dalam gedung. Tak ada aparat kemanan terlihat melerai kerusuhan itu.

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Baruga AKP I Gusti Komang Sulastra menyebut, saat ini tengah memantau pergerakan massa. Pihaknya masih mencari pemicu utama dari kerusuhan ini. Namun mereka tak kuasa mengamankan keributan.

“Kita masih memantau sejak tadi malam kita begadang ini. Tadi juga kita melintas sempat juga (dilempari). Jadi, kita masih baca situasinya, kita masih mau pastikan pemicunya,” kata AKP I Gusti Komang Sulastra saat dihubungi melalui telepon. 

Ditemui terpisah Kabid Humas Polda Sultra Kombes Ferry Walintukan saat dimintai konfirmasi pada Kamis (17/9/2020), mengatakan Salah satu ormas demo, dari Generasi Muda Tolaki Sulawesi Tenggara, jumlahnya sekitar 100-200 orang.

Ferry menyebut demo itu terjadi siang tadi, sekitar pukul 14.00-15.00 Wita. Pedemo melayangkan tuntutan kepada polisi agar segera menuntaskan kasus penghinaan terhadap masyarakat adat Tolaki dan intimidasi terhadap seorang ustaz di Kolaka. Massa juga menuntut Kapolda Sultra menemui mereka di perempatan jalan.

“Mereka tuntutannya minta supaya kasus-kasus yang ada di Kendari, kan ada beberapa kasus seperti ada dugaan penghinaan terhadap masyarakat Tolaki, ada yang sudah diproses, ada yang (pelakunya) anonimus, ada yang masih penyelidikan. Dan kasus yang di Kolaka, yang ustaz di Kolaka, mereka minta supaya di proses dan jangan terulang lagi adanya penghinaan-penghinaan,” jelas Ferry.

“Sesudah itu mereka minta ketemu sama Kapolda di perempatan itu Demo tidak ada STTP (Surat Tanda Terima Pemberitahuan)-nya, tapi tetap kami kawal oleh personel Polres Kendari. Ya gimana, demo tidak ada STTP, lalu minta Kapolda datang,” lanjut Ferry.

Dikonfirmasi pada masyarakat disekitar lokasi demo, Amir Rahmad bahwa diduga terjadi demo tersebut, ketersinggungan antar suku Tolaki, Buton dan Muna.

” Yang jelas saya tidak tau persis, yang menurut pandangan saya sementara masalah ketersinggungan suku,” tegasnya.

Detik.com|Nasional Suara Merdeka Com| Akurat.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *