Ahok & Tionghua Bukan Penumpang dinegeri ini ( NKRI )

oleh: Chandra Kirana

Ketika Ahok membongkar Borok Pertamina bermunculan caci maki dari mengiring opini narasi agama sampai sentimen etnis,rasis dan menumpang diIndonesia.

Karena apa yang dilakukan oleh Ahok selalu dikaitkan etnis Tionghua yang diciptakan sebagai bangsa asing yang hanya menumpang diIndonesia.

Keberadaan Etnis Tionghua yang melahirkan pejuang dan pahlawan dalam sejarah berdirinya bangsa ini sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh sekelompok orang yang memiliki tujuan kepentingan Politik entitas fanatisme agama.

Ketidakmampuan berargumentasi menyajikan fakta untuk medegradasi keberadaan etnis Tionghua sejak kerajaan nusantara,masa perjuangan,Kemerdekaan sampai saat ini,hanya mampu dilakukan melalui provokasi kebencian dengan narasi Aseng,Asing,China dan PKI.

Narasi menu basi yang terus berulang digoreng dan ditiupkan dalam setiap gerakan dan agenda kepentingan politik yang diandalkan tanpa mampu mengedepankan kualitas intelektual orang-orang tertentu dinegeri ini.

Penyangkalan sebagai turunan Tionghua pada orang-orang tertentu demi menjaga popularitas dan amannya jabatan juga merupakan sebuah pemandangan yang secara vulgar terlihat,semua hanya demi untuk mencari aman bagi kebaradaan kedudukan dan jabatannya.

Tensi Rasis semakin meningkat dikala momen kontestasi politik menghangat.

Adanya ketakutan Orang-orang yang tampil diatas panggung politik,menjadikan isu Asing,aseng,Kafir dan PKI menjadi sebuah jualan yang tidak memerlukan biaya besar dalam menggiring dukungan fanatik dari orang yang awam/urban,dari orang-orang yang sedang menunjukkan bodoh sudah lewat Pintar Belum sampai.

Mengubur fakta sejarah ribuan pejuang dan pahlawan Tionghua yang berjasa bagi NKRI menjadi keharusan yang wajib dilakukan.

Namun jejak tidak akan pernah dapat dipungkiri,dan fakta suku Tionghua di NKRI bukan penumpang terus bergulir dan semakin terbuka melalui kisah fakta sejarah yang tidak akan terbantahkan oleh isu kebencian dan provokasi apapun.

Contoh bahwa Etnis Tionghua bukan penumpang dinegeri ini dapat kita buktikan salah satunya dengan keberadaan Pahlawan dari etnis Tionghua yang dimakamkan ditaman Pahlawan karena jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia diantaranya:

Tjia Giok Thwam

Dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, pada 1927. Ketika usianya baru menginjak 18 tahun, Tjia Giok Thwam tergabung dalam regu pasukan penggempur Pasukan 19 CMDT (Corps Mahasiswa Djawa Timur).

Ia ikut angkat senjata dalam sejumlah pertempuran di Jawa Timur mengusir penguasaan kembali Belanda atas wilayah tersebut.

Pada 10 April 1950, Tjia Giok Thwan menyelesaikan pengabdiannya sebagai pasukan gerilya CMDT. Atas persetujuan komandannya, Kastam Prayitno, Tjia Giok Thwan resmi mundur dengan pangkat terakhirnya Letda (Letnan Dua).
Ia lalu melanjutkan pendidikan kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya.

Pada 5 Oktober 1958, melalui SK Menteri Pertahanan RI, Tjia Giok Thwan menerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua.

Kemudian pada 10 November 1958, ia kembali menerima Tanda Jasa Pahlawan sebagai anggota Veteran RI.

Bukan hanya itu Tjia Giok Thwan kemudia juga dianugerahi Satya Lencana Gerakan Operasi Militer Kesatu pada 29 Januari 1959.

pada 1 Maret 1982 (55 tahun) Tjia Giok Thwan meninggal dunia di Malang akibat sakit jantung yang dideritanya. Hingga akhir hayatnya, Tjia Giok Thwan menjabat Kepala Rumah Sakit Jiwa Pusat Sumber Porong sejak 1967. Ia dimakamkan di TMP Suropati, Malang. Jenazahnya ditempatkan di dalam peti berhiaskan bendera merah putih. Pelepasannya pun dilakukan menggunakan upacara kebesaran militer.

Sho Bun Seng

Sho Bun Seng adalah salah seorang pegiat seni yang ikut dalam perjuangan kemerdekaan. Dilahirkan pada 12 November 1911, di Kota Raja, Aceh.

Sho Bun Seng aktif dalam grup sandiwara Dardanela sekitar tahun 1920-an. Kelompok sandiwara ini lahir di tengah kepopuleran Opera Miss Riboet, dengan bintangnya Miss Riboet.

Sho Bun Seng sendiri diketahui aktif di angkatan Tan Tjeng Bok dan Fifi Young.
Sho Bun Seng lalu memutuskan pergi ke Padang, Sumatera Barat, dan menikahi Hu Chung Ying. Dari sana ia pindah ke Kalimantan Barat untuk bekerja menjadi guru.

Namun tidak lama ia kembali ke Padang. Sekitar tahun 1944, ia bersama sejumlah kalangan etnis Tionghua lainnya ikut melakukan pergerakan melawan kekuasaan Jepang.

Setelah kemerdekaan, Sho Bun Seng bergabung dengan Batalion Pagar Ruyung. Ia ditugaskan selama beberapa tahun di Kalimantan, khususnya Pontianak, Singkawang, dan sekitarnya. Pada 1950-an, ia mendapat tugas ke Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat. Di sana ia membantu operasi militer menumpas pemberontakan DI/TII. Pada 1958, Sho Bun Seng memutuskan pensiun dari urusan kemiliteran. Pada tahun-tahun berikutnya Sho Bun Seng lebih aktif di industri hiburan yang pernah digelutinya dahulu.
Atas jasa-jasanya, baik selama masa pendudukan Jepang maupun ketika aktif di kemiliteran, Sho Bun Seng mendapat Bintang Satya Lencana Peristiwa Aksi Militer Pertama dan Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua. Ia juga mendapat surat tanda jasa pahlawan dari Presiden Sukarno. Serta Satya Lencana Gerakan Militer Kelima.
Pada September 2000, Sho Bun Seng meninggal dunia. Jasadnya lalu dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

John Lie

Dilahirkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 11 Maret 1911, John Lie Tjeng Tjoan merupakan anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tseng Nie. Sejak kecil pria yang akrab disapa John Lie ini sudah mendapat pendidikan yang baik di sekolah berbahasa Belanda, Hollands Chinese School (HCS) dan Christelijke Lagere School. Namun menginjak usia 17 tahun, ia memutuskan pergi dari Manado menuju Batavia, demi memenuhi hasratnya menjadi pelaut.
Di Batavia John Lie bekerja sebagai buruh pelabuhan, di samping kesibukannya ikut kursus navigasi. Ia berhasil menyelesaikan pelatihannya dan ditempatkan di perusahaan pelayaran Belanda Klerk Muallim II di KPM (Koninklijk Paketvaart Matschappij). Setelah beberapa kali pindah kapal, ia ditugaskan di MV Tosari pada Februari 1942. Ketika Perang Dunia II pecah, MV Tosari dijadikan kapal logistik pendukung armada sekutu. John Lie dan awak kapal lainnya mendapat pelatihan khusus setelahnya.

Menurut M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie, Setelah Indonesia merdeka, John Lie kembali bekerja di Pelabuhan Tanjungpriok. Namun ketika suasana semakin genting ia memilih bergabung dengan angkatan laut. Atas permintaannya, ia ditempatkan di Pelabuhan Cilacap. Di sanalah awal mula misi-misi John Lie menembus blokade Belanda dan penyelundupan yang membuat namanya melegenda.
Wartawan majalah Life, Roy Rowan, mengabadikan kisah heroik John Lie dalam “Guns-And Bibbles-Are Smuggled to Indonesia” yang dimuat Life pada 26 Oktober 1949. Pers asing pun menjuluki pria Manado ini dengan sebutan “The Great Smuggler with the Bibble”. John Lie memutuskan pensiun pada 1967 setelah menyelesaikan sejumlah tugas, seperti memimpin KRI Rajawali dan KRI Gadjah Mada, serta ikut aktif dalam penumpasan gerakan DI/TII, RMS, dan Permesta.

Pada 27 Agustus 1988, John Lie wafat. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro (1993-1998) “mengakui” John Lie sebagai Pahlawan Nasional. Namun penganugerahan gelar Pahlawan Nasional baru terealisasi pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2009. John Lie dipusarakan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Lie Eng Hok

Lie Eng Hok dilahirkan pada 7 Februari 1893 di Balaraja, Tanggerang, Banten. Tidak banyak informasi mengenai masa kecilnya. Namun ia diketahui pernah menjadi wartawan surat kabar Tionghoa Sin Po sekitar 1910-an. Ia cukup aktif menulis di harian milik Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie tersebut. Pengalamannya menjadi jurnalis itu kemudian dimanfaatkan Lie Eng Hok ketika ia aktif di masa pergerakan nasional.

Pada 1926, semasa gerakan anti-Belanda tengah kuat-kuatnya di sejumlah daerah, Lie Eng Hok pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Di sana ia membuka sebuah toko buku di Pasar Johar. Rupanya pekerjaannya itu hanyalah kedok bagi pekerjaannya yang lain, yakni kurir dan informan. Ia bertugas membagikan informasi tentang gerak-gerik pasukan Belanda kepada para pejuang anti-Belanda.

Diceritakan Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, akibat aktifitasnya itu, Lie Eng Hok ditangkap dan dimasukkan ke jajaran pemberontak yang akan dibuang ke Boven Digul oleh pemerintah Belanda. Dari sekitar 1300 tahanan yang berangkat pada 1927, 10 di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa.
Selama berada di Digul, Lie Eng Hok hidup menderita. Ia masuk dalam kelompok orang yang tidak sudi bekerja di bawah pemerintah Belanda. Bersama-sama dengan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, Lie Eng Hok tidak mendapat fasilitas yang layak selama di Digul. Hatta pun pernah bercerita di dalam Mengenang Sjahrir, jika para interniran yang menolak tunduk pada pemerintah Belanda memang mendapat tekanan yang lebih berat dibandingkan mereka yang memilih bekerjasama.

Pada 1932, berdasarkan Besluit Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No.8 tanggal 19 Januari 1932, ia dibebaskan dari Digul. Setelah itu ia memilih kembali ke Semarang, membuka kembali toko buku yang sebelumnya di tinggalkan. Pada 22 Januari 1959, Lie Eng Hok ditetapkan sebagai pejuang “Perintis Kemerdekaan” berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial.
Pada 27 Desember 1961, Lie Eng Hok meninggal dunia. Ia dimakamkan di pemakaman umum di Semarang. Namun pada 1986 berdasarkan Surat Keputusan Pangdam IV/Diponegoro No.B/678/X/1986, kerangkanya dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal di Semarang.

Ferry Sie King Lien

Ferry Sie King Lien lahir pada 1933 dari keluarga pemilik pabrik gelas tersohor di Kartodipuran, Surakarta, Jawa Tengah. Ia merupakan satu dari sedikit Tentara Pelajar dari kalangan Tionghoa yang ikut mengangkat senjata pada pertempuran di Solo tahun 1949.

Bersama empat orang rekannya, Soehandi, Tjiptardjie, Salamoen, dan Semedi, Ferry Sie King Lien mendapat tugas khusus dari kesatuannya, yakni memberikan dorongan moril kepada rakyat untuk sama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Diceritakan Iwan Sentosa dalam Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara sampai Indonesia, cara Ferry Sie King Lien dalam menjalankan misinya adalah dengan mencoret-coret tembok dan menyebarkan selebaran berisi ajakan melawan tantara Belanda kepada seluruh rakyat Solo, serta menembaki markas-markas pasukan Belanda. Setiap malam ia dan kawan-kawan dari gerilyawan malam Sektor A Rayon V, Subwehrkreis 106 Arjuna keluar melancarkan aksi berbahayanya itu.

Para gerilyawan malam ini akan mengincar tempat-tempat yang strategis di seluruh penjuru kota. Mereka secara khusus menggunakan bahasa Inggris dan Belanda dalam setiap coretannya untuk menunjukkan bahwa perjuangan tersebut dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Dalam buku Peranakan Idealis: dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya, ada sebuah coretan di tembok yang cukup berpengaruh dalam proses menaikkan moril rakyat pada masa-masa perjuangan ini.
“Eens komt de dag dat Republik Indonesia zal herrijzen” yang artinya “pada suatu hari Republik Indonesia akan timbul kembali”.
Pada malam 14 Juli 1949, saat hendak melakukan misinya, Ferry Sie King Lien datang menemui Camat Pemerintah Gerilya Kaonderan Serengan RM Sumardi. Ia bermaksud mengajak si camat untuk memimpin pasukan gerilya malam itu. Namun Sumardi menolak karena menurutnya malam itu adalah “hari musibah” dalam perhitungan primbon Jawa. Meski mendengar hal itu, Ferry Sie King Lien dan sejumlah TP tetap melanjutkan misinya.
Namun tanpa diduga sebelumnya, pasukan Belanda bersenjata lengkap memergoki mereka di sebelah selatan Singosaren. Ferry Sie dan kawan-kawan lainnya diberondong oleh senjata berat. Mereka berusaha mencari perlindungan. Naas, Ferry dan Soehadi tertembak. Keduanya tewas seketika. Sementara tiga orang lainnya dari pasukan gerilya Subwehrkreis berhasil meloloskan diri dan selamat.
Atas jasa-jasanya, Ferry Sie King Lien dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jurug, Solo. Ia tercatat sebagai satu-satunya warga keturunan Tionghua yang dipusarakan di sana.

Ini hanya lima orang Pahlawan dari sekian banyak Pejuang Etnis Tionghua didalam andil kemerdekaan Republik Indonesia diantara pejuang dan pahlawan etnis Tionghua lain.

Sehingga tidak ada dasar hukumnya kemudian oleh segelintir Orang yang mrngatakan Ahok dan etnis Tionghua hanya menumpang dinegeri ini. Tidak akan pernah dapat ditemukan landasan hukum bagi seorang warganegara ditanah kelahirannya disebut hanya diterima sebagai penumpang dinegeri ini hanya karena dia seorang Tionghua.

Sentimen rasis hanya karena ketakutan dan ketidak mampuan dalam berkompetisi secara sehat dan berakal sehat,dalam mengadu konsep intelektual kebangsaan secara utuh,sehingga kemudian bermunculan narasi-narasi negatif melalui provokasi-provokasi negatif.

Manusia ketika akan dilahirkan didalam suatu bangsa tidak akan pernah bisa memilih hendak dilahirkan sebagai suku bangsa,dan warna kulit serta bentuk mata didalam kelahirannya.

Kalau boleh memilih untuk kelahirannya,semua orang pasti akan memilih terlahir dalam bangsa mayoritas dan memiliki kekuasaan.

Namun manusia hidup punya pilihan,ingin menjadi sampah dan kotoran,atau yang membersihkan sampah dan kotoran yang akan merusak bangsa dan negerinya.

Semua ada konsekwensi bila telah memilih,termasuk pilihan untuk berdiri diatas kebenaran yang harus terbakar oleh api kebencian dari orang-orang yang tidak menyukai dan tidak menginginkan kebenaran itu ada.

Salam Hangat dalam
Bhinneka Tunggal Ika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *