MEREKA MUNDUR DARI KPK, “Kenapa Novel gak mundur ?”

Oleh : Denny Siregar

Begitu tanya seorang teman, waktu mendengar Febri, juru bicara KPK mundur. Febri adalah orang ke 38 yang keluar dari KPK pasca UU KPK baru disahkan.

UU KPK baru itu memang menyatakan bahwa pegawai KPK sekarang menjadi aparatur sipil negara karena KPK sekarang berada dibawah Presiden, bukan lagi lembaga independen yang tidak punya hirarki.

Dulu, KPK benar-benar seperti “negara dalam negara”. Lembaga itu sangat powerful, lepas dari struktur organisasi negara, tidak punya pengawas. Keberadaan KPK seperti itu mengerikan, karena tidak punya kontrol.

Bahayanya adalah ketika KPK disusupi oleh kepentingan baik politik, mafia ataupun kelompok radikal. KPK bisa jadi senjata penghancur tubuh negara dengan kekuasaan mutlaknya yang tidak bisa dihentikan. Bahkan Presiden pun bisa mereka hantam jika mau.

Keberadaan KPK yang sangat berkuasa ini, tentu membuat roda pemerintahan tidak bisa jalan. Semua takut, karena kesalahan administrasi sedikit saja, tudingannya bisa jadi korupsi.

Bertahun-tahun, KPK dikuasai wadah pegawai didalamnya. Siapapun pimpinan KPK tidak bisa menguasai wadah didalamnya, karena bisa tersandera. Pegawai KPK pun tidak dibawah siapa-siapa. Mereka merekrut pegawai sendiri dgn aturan sendiri, sehingga muncul kelompok-kelompok yang menguasai KPK dari dalam.

Ketika KPK dibawah Presiden, situasi berubah. Pegawai KPK pun menjadi ASN, mereka harus mengikuti tata tertib sebagai aparatur negara. Tidak bisa seenak udelnya main-main dengan perkara. Dan ini membuat tidak betah beberapa orang yang selama ini nyaman di KPK dengan kekuasaan tidak terbatasnya. Mereka keluar satu persatu, seperti yang dulu pernah saya perkirakan.

Pertanyaannya, “Kenapa Novel belum keluar ? Apakah dia betah ada dalam KPK ?”

Perkiraan saya cuma satu. Dia sedang menunggu dipecat. Ketika dipecat, kita tahu model playing victim kembali akan dimainkan untuk menarik simpati diluar. Dan Novel tetap dibiarkan didalam, diberi jabatan, tapi tidak diberikan pasukan. Lama-lama dia juga gerah dan akan keluar dengan sendirinya.

KPK dengan model operasi tangkap tangan sudah bukan zamannya lagi, karena nilai tangkapannya kecil sekali, sedangkan biaya operasionalnya guede banget. Gak sebanding. Dan model OTT KPK tidak mencegah korupsi, karena mereka hanya fokus main tangkap dan tidak fokus main cegah.

Iyalah, kalo main tangkap kan dapat berita, cegah doang siapa yang mau cerita ??

Pada akhirnya sesudah diluar KPK, kita akan tahu wajah-wajah mereka sebenarnya. Seperti mantan ketua KPK, yang ternyata mau menjadi pengacara keluarga Cendana.

Ah biar bagaimanapun, periuk nasi tetap harus diisi juga. Seruput kopinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *