35 Skenario Film Kisah Kearifan Lokal dari 34 Provinsi Berdasarkan 34 Puisi Esai

Serial Film Catatan Kaki Dari Timur: Suara Batin Indonesia Dari Aceh Sampai Papua

Denny JA |Penulis– | NSM- Suara Merdeka|

,

JAKARTA– Bioskop pindah ke Handphone. Kita hidup di era ini.

Tapi seberapa banyak dan seberapa sering manusia menonton film di masa kini?

Tony Brown dari University of Canberra (2011) menyajikan data itu. Ia mengutip data yang hanya menghitung jumlah karcis bioskop terjual. (1)

Di Amerika Serikat, di tahun 2002 saja, terjual 1, 6 milyar tiket. Di Inggris, tahun 2008 terjual 164 juta tiket. Di Australia tahun 2007, terjual sebanyak 85 juta tiket.

Kini di tahun 2020, berkibar media service provider yang membuat semua kita dapat menonton film dari rumah, bahkan dari handphone. Yang paling menonjol: Netflix, DisneyPlus dan PrimeVideo (Amazon).

Yang berlangganan Netflix saja, di tahun 2020, yang bersedia membayar iuran bulanan untuk menonton film, kini sebanyak 193 juta pelanggan di berbagai negara. (2) Jika rata rata satu pelanggan itu keluarga 4 orang, maka yang menonton film setiap waktu dari Netflix saja sekitar 750 juta manusia.

Kini semua dapat menonton film itu dari Handphone masing- masing. Nonton di kafe. Bus kota. Kereta api. Taman. Di kamar. Dimanapun kita ingin.

Data ini membuahkan kesimpulan yang mudah. Jika ingin menyentuh hati manusia dalam jumlah yang banyak secara massif gunakanlah medium film.

Tak ada yang lebih kuat dibandingkan film untuk membuat manusia merenung, menangis, marah, membangkitkan harapan.

Tak ada yang lebih mudah menyampaikan pesan, kesan, secara sangat massif dibandingkan lewat fim.

Memang benar. Bioskop sudah pindah ke handphone.

Film pun kini diputar di banyak kelas untuk mempelajari masyarakat. Di banyak universitas kini, film dijadikan medium untuk belajar soal isu sosial tertentu. Atau belajar perihal identitas kolektif. Atau belajar mendalami kekayaan kultural satu komunitas.

-000-

Penulis pun banyak belajar soal keunikan budaya masyarakat melalui film.

Lama penulis merenung setelah menonton film Braveheart (1995). Dalam satu adegannya, film ini mengkisahkan sebuah tradisi di Eropa Abad Pertengahan. Tradisi sangat asing di masa kini. Dan sangat kejam.

Dalam bahasa perancis tradisi itu disebut Droit du Seigneur. Lord’s right. Atau dalam bahasa Inggris: The Right of the first night. Prime Nocta. (3)

Ini adalah hak tuan tanah di di Eropa, atau hak yang sangat berkuasa di sana, untuk menikmati malam pertama, hubungan seksual, dengan wanita dalam komunitas itu, yang menjadi pengantin.

Setelah upacara pernikahan, sang pengantin wanita dipaksa tradisi untuk bermalam dulu, melakukan hubungan seksual pertamanya, dengan sang tuan tanah, atau penguasa, atau bahkan raja.

Oleh sebagian penguasa, hak malam pertama ini dijadikan alat untuk pembersihan etnis. Pengantin wanita dari etnis tertentu yang berbeda, agar tak lagi melahirkan keturunan etnis tersebut, di malam pertama diharapkan hamil setelah berhubungan seksual dengan tuan tanah yang ingin etnisnya saja yanh terus tumbuh.

Ternyata hak malam pertama ini sudah menjadi tradisi setua peradaban. Epic of Gilgamesh ini dokumen yang ditemukan arkeolog. Dokumen ini berasal dari abad 2000 sebelum masehi. Ia berasal dari peradaban pertama, paling tua dalam sejarah peradaban: Mesopotamia.

Dikisahkan dalam dokumen itu. Raja, penguasa bumi, dapat melakukan apa saja yang Ia berkehendak. Ia dapat menginginkan malam pertama, hubungan seksual pertama dengan seorang wanita dalam wilayah itu, yang menikah.

Film menyajikan kisah ini lebih hidup dibandingkan teks. Ataupun dibandingkan dengan cerita lisan. Gambar yang bergerak di film dapat berkisah lebih dari seribu kata.

Dalam film Braveheart, misalnya, kita lihat duka di wajah pengantian pria. Ingin melawan tapi tak berdaya. Nampak pula mimik wajah sang penguasa, arogan, angkara murka, menikmati malam pertama pengantin wanita.

Penulis ikut gelisah. Geram. Marah. Sekaligus terpana. Penulis merasakan hati pengantin pria. Diam tak berdaya, sedih, duka mendalam, melihat sang kekasih di malam pertama pernikahan justru harus diberikan kepada penguasa.

Film memang medium sangat powerful bagi kita untuk mempelajari batin dan sistem nilai masyarakat. Keunikan dan kekayaan lokal sebuah zaman disampaikan dengan menyentuh hati melalui film.

-000-

Gagasan membuat serial film untuk mendalami kekayaan lokal 34 provinsi di Indonesia muncul seketika di hati penulis. Aha! Eureka!

Aneka ragam budaya, suara batin masyarakat, drama duka ataupun kisah kepahlawan, dari Aceh hingga Papua, dapat dikisahkan lewat film.

Dengan cara ini, publik luas, terutama remaja dan anak anak muda, mereka dapat belajar soal Indonesia dengan mudah. Belajar dengan menonton film. Belajar melalui hiburan.

Gagasan ini merekah seketika. Saat itu penulis baru saja menerbitkan 34 buku dari 34 provinsi. Masing masing provinsi, 5–6 penyair, pengarang, mengkisahkan local wisdom masing masing provinsinya. Semua dituliskan dalam puisi esai.

Ini kerja budaya. Tersaji sekitar 176 kisah kearifan lokal dari 34 provinsi, dalam bentuk 176 puisi esai.

Penulis pun meminta dua sastrawan, Agus R Sarjono dan Jamal D Rahman untuk membantu. Mereka cukup menyeleksi. Dari 34 provinsi, dari lima puisi esai, untuk memilih satu puisi esai saja, yang mewakili suara batin, yang unik, di provinsi itu.

Tersajilah 34 puisi esai dari 34 penulis dari 34 provinsi.

Tahap berikutnya, penulis mencari pengarang untuk mengubah 34 puisi esai ini menjadi 34 skenario. Karena ini akan menjadi serial, penulis ikut sebagai pengarang kedua. Kerja penulis membuat kisi- kisi.

Ini kisi- kisi yang penulis susun. Semua penulis skenario harus mematuhinya. Semata kisi kisi ini dibuat agar 34 serial film dari dan tentang 34 provinsi Indonesia memiliki benang merah. Walau isinya beragam, tapi terasa 34 skenario film ini berasal dari satu gagasan.

Program ini berkembang menjadi 35 skenario film dengan menyertakan satu puisi esai kisah nasional).

Judul Serial: Catatan Kaki dari Timur
(Drama dalam Masyarakat yang sedang bertransisi). Skenario untuk durasi film 50 menit

9 Panduan:

  1. Tema besar serial ini menonjolkan eksotisme, keunikan dan variasi budaya Indonesia, di setiap provinsi. Hal ini harus selalu mewarnai skenario, walau diselipkan di dalam kisah utama
  2. Selalu ada setting atau isu atau kasus sosial tertentu, di setiap provinsi itu, tapi dipotret dalam efek batinnya kepada individu
  3. Selalu tampilkan kisah cinta, baik sebagai kisah utama ataupun sampingan saja
  4. Ada gagasan besar yang ingin disampaikan melalui film ini
  5. Untuk benang merah di 35 serial ini, dibuat pesan, selalu ada seorang peneliti: tugasnya memang ingin merekam kearifan lokal daerah (budaya atau pemandangan), yang akan dilaporkannya kepada tim pusat yang akan membuat buku soal Indonesia. Dalam penelitian itu, ia menggali sebuah kisah yang menjadi drama utama setiap film
  6. Penulis (Denny JA) menjadi pengarang kedua semua skenario untuk menentukan skenario sudah memenuhi standard
  7. Penulisan skenario dimulai dengan, membuat list:

– gagasan besar apa yang akan menjadi pesan utama, yang digali dari puisi esai yang sudah dipilih

– Keunikan apa di provinsi itu yang akan diangkat (kultur atau filosofi atau kesenian atau pemandangan, atau gabungan)

  • Kisah cinta bagaimana yang akan diselipkan atau yang menjadi drama utama

Setelah 3 pokok ini disepakati, penulisan dilanjutkan

  1. Puisi esai yang sudah dipilih dapat dimulai dengan menghadirkan kisi kisi itu
  2. Setiap penulis, menyerahkan dulu point no 7 dari setiap skenario yang akan ditulisnya

Setelah membaca draft pertama beberapa skenario, penulis menyimpulkan. Masih perlu kerja panjang agar standard yang penulis tetapkan terpenuhi.

Penulis pun menyewa satu agen mewakili penulis untuk bulak balik berdiskusi dengan pengarang skenario. Ditargetkan, paling banyak empat kali asistensi, skenario film sudah baku.

Dalam perjalanannya, memang tak mudah menuliskan 34 skenario film dengan standard dan tepat waktu. Agen yang mewakili penulis untuk asistensi sempat pula berganti.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Salman Aristo dan tim yang terlibat mewakili penulis berdiskusi dan asistensi dengan pengarang skenario. Juga kepada Firman Triyadi yang melanjutkan kerja tim Salman Aristo.

Terima kasih pula kepada 35 penulis puisi esai yang digunakan untuk skenario. Juga terima kasih kepada Jeune and Raccord yang mengorganisasi penulisan ini.

Dan akhirnya, tuntas sudah 35 skenario Film CATATAN KAKI DARI TIMUR: Suara Batin Indonesia dari Aceh hingga Papua. Ini kumpulan 34 skenario film dari 34 provinsi, dari 34 puisi esai. Ia menjadi 35 skenario film karena ditambah dengan satu puisi esai isu nasional.

-000-

Agar mudah disajikan kepada khalayak, 35 naskah skenario film ini disajikan dalam enam serial buku. Pertama, Buku Sumatera. Kedua, Buku Jawa-NTT/NTB/ Bali. Ketiga, Buku Kalimantan. Keempat, Buku Sulawesi. Kelima, Buku Papua. Keenam, Buku Nasional.

Sudah lama kita tak lagi membaca buku skenario film. Serial 6 buku ini menambah warna dunia buku. Serial ini juga siap untuk difilmkan. Tak sekedar skenario, Ia juga rekaman suara batin Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Bagaimanakah cara mengenal Indonesia, yang tersebar dalam 34 provinsi? Melalui gambar dan foto, kita mendapatkan kesan keragaman itu. Melalui buku pelajaran non-fiksi, kita memperoleh informasi.

Tapi sisi batin Indonesia, dari Aceh hingga Papua, lebih dapat kita rasakan melalui kisah, melalui drama, melalui film yang bergerak.

Tersajilah serial buku 35 skenario film ini.

Oktober 2020

CATATAN

  1. Tiket bioskop yang dibeli di Amerika Serikat, Inggris dan Autralia, dalam satu tahun, mencapai milyar tiket
  1. Pelanggan Netflix yang menyediakan film hingga bisa diputar di handphone di tahun 2020 sebanyak 193 juta.
  1. Hak malam pertama atas pengantin wanita ternyata tradisi yang panjang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *