Idealisme & Kearifan Arief Budiman,”Pentingkah kehadiran Arief Budiman di tengah kita?”

(Dari Editor: Syaefudin Simon dan Swary Utami Dewi)

Pentingkah kehadiran Arief Budiman di tengah kita?

JAKARTA– Buku ini akan menjawabnya. Arief adalah orang yang berani berteriak jika ada ketimpangan di negerinya. bukan tipe orang yang “cari aman” untuk dirinya sendiri. Arief selalu berpikir untuk orang lain, untuk orang-orang sebangsa dan setanah air. Arief bahkan berpikir untuk kemanusiaan.

Tahun 1971, misalnya, Arief “diculik” orang tak dikenal. Ia hilang begitu saja. Salahnya, mengkritik Ibu Tien Soeharto, yang akan mendirikan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur.

Menurut Arief, pembangunan TMII tidak hanya merugikan rakyat — yang tanahnya dipaksa dijual ke pemerintah dengan harga sangat murah, bahkan sebagian dirampas tanpa ganti rugi – tapi juga Indonesia belum pantas membangun TMII, karena rakyatnya masih miskin.

Arief ber- pandangan lebih baik dananya digunakan untuk membantu peningkatan ekonomi rakyat. Kritik Arief itulah yang rupanya membuat Soeharto terganggu.

Presiden Soeharto, konon, merasa “terhina” karena gagasan istrinya dilecehkan. Buntut- nya, Arief pun diculik intel tentara. Ia ditahan di Gang Buntu, Kebayoran Lama, selama sebulan.

Lalu, di tengah jayanya Golongan Karya (Golkar), Arief mendeklarasikan Golongan Putih (Golput). Ia meminta rakyat dalam pemilihan umum (pemilu) untuk tidak memilih partai apapun di bilik suara.

Golput adalah bentuk perlawanan Arief terhadap rezim Orde Baru yang setiap pemilu “merekayasa” kemenangan Golkar. Di tengah maraknya korupsi dan nepo- tisme rezim Orde Baru yang terkenal kejam terhadap oposisi, Arief juga mengkritik pedas korupsi dan nepotisme di rezim Soeharto tanpa tedeng aling-aling.

Bahkan tahun 1985- 1989, selama proses pembangunan waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah, Arief mengorganisir aktivis untuk menentang pembuatan bendungan tersebut.

Ketika aktivitas politik di kampus harus terhenti, akibat kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan Kampus) dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Daoed Joesoef, tahun 1978, kegiatan para aktivis berubah: dari aksi ke kelompok studi.

Di sini peran Arief makin besar. Ia menjadi inspirator dalam kelompok studi, yang kemudian menjadi landasan aksi. Arief juga membentuk kader pemrotes, melalui wacana intelektual yang antiotoritarian.

Pendeknya, Arief tidak pernah mundur dengan ancaman dan teror. Ia jalan terus dengan protesnya terhadap kezaliman. Itulah sebabnya, teman akrabnya, Goenawan Mohamad, sampai menjuluki Arief “tukang protes profesional.”

Arief memang “tukang protes” yang tak pernah berhenti mempro- tes dengan “imbalan” kebahagiaan memprotes.

Lalu, apakah ideologi kirinya (sosialisme) juga merupakan bentuk protes terhadap ideologi kanan (kapitalisme) yang kini menguasai dunia? Buku ini juga akan menjawabnya.

Buku ratusan halaman ini, ringkasnya, membedah berbagai hal: mengapa Arief menjadi “tukang protes”; mengapa Arief selalu mengusung sosialisme; mengapa Arief anti-Orde Lama sekaligus anti-Orde Baru, serta orde apapun yang korup.

Tak hanya itu. Di buku ini Leila Ch. Budiman, istri tercinta Arief, bercerita panjang lebar tentang kehidupan keluarganya, mulai dari masa berkenalan, berpacaran hingga jelang masa- masa akhir Arief Budiman.

Dari cerita Leila, juga cerita lebih dari 50 penulis di buku ini, pembaca makin mengetahui siapa sesungguhnya Arief.
Para penulisnya sendiri, lelaki dan perempuan, datang dari berbagai ragam dan latar belakang.

Tanpa mengenal afiliasi politik, semua berkenan menyumbang tulisan tentang Arief, sebagai wujud rasa cinta dan penghargaan. Beberapa bahkan masih berusia 30 tahunan, yang mengenal Arief melalui tulisan- tulisannya.

Dalam buku ini, Arief pun tidak hanya dicatat dan dikenang karena sisi pemikiran dan aktivitas politiknya (dan sosialisme), tapi juga karena pikiran dan sikapnya dalam isu-isu lain (sebut saja sastra, kebudayaan dan gender).

Sisi personal dan humanis Arief juga terungkap jelas di buku ini.
Dari semua cerita yang tertulis di sini, kesimpulannya, Arief memang berbeda.

Ia bukan orang biasa. Setelah membaca tuntas buku ini, pertanyaan: pentingkah kehadiran Arief di tengah kita, niscaya juga akan terjawab. Dan orang niscaya semakin angkat topi terhadapnya.

Untuk itu, kami mengucapkan terimakasih tak terhingga atas kontribusi semua penulis buku Idealisme & Kearifan Arief Budiman ini. Juga untuk beberapa sahabat, termasuk Mbak Leila Ch. Budiman sendiri, yang sudah berkenan me- nyumbangkan foto-foto Arief.

Terima kasih pula untuk Bang Hariman Siregar yang sudah meluangkan waktu memberi kata pengantar.

Tidak ketinggalan, ucapan terima kasih kami haturkan kepada Denny Januar Ali, Ph.D. — yang memberikan “bantuan dana awal” untuk penerbitan buku yang luar biasa ini.

Juga untuk dukungan Dr. Indra Iskandar yang memungkinkan buku ini tercetak dengan apik. Kontribusi Anda semua, sangat berharga untuk menguak siapa Arief dan peranannya dalam membangun Indonesia.

Perjuangan dan keteladanan Arief yang terungkap di buku ini, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua dan generasi akan datang.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *