Walikota Gorontalo Melihat Ekonomi Kerakyatan Untuk Rakyatnya, Kontraksi Emosional Covid Terlalu Berlebihan di Indonesia

Penulis : R Mas MH Agus Rugiarto SH / Agus Floureze Pengacara Nasional| Pendiri YLKI Gorontalo | Penasehat FKPPI Jakarta Utara | Anggota Mastan dibawah Binaan Menristek dan BSN

,

Jakarta- The Plaza Indonesia Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat

Penulis dalam hal ini Perlu menerangkan pandang Fakta Absolut dalam kerangka berpikir, Mengapa dimasa Covid-19 Walikota Gorontalo H. Marthen Taha memberikan kebebasan berusaha kepada rakyatnya dengan tetap mematuhi Protokoler Kesehatan.

Sepertinya Walikota Gorontalo berpijak pada kemakmuran Rakyatnya. Salah satunya masyarakat diberikan kebebasan berkarya, tidak memberikan kemanjaan kepada masyarakat yang selalu berharap bantuan dari pemerintah, dan memberikan ekspresi bahwa Kota Gorontalo adalah kota jasa, dengan membuka seluruh perdagangan baik Rumah Makan, Cafe cafe, dan perdagangan lain dengan mematuhi Protokoler kesehatan.

Sehingga ini yang dinamakan peningkatan ekonomi secara natural dan unnatural, menurut saya, padangan ekonomi Aristoteles tentang Natural lebih kearah peningkatan ekonomi mikro , sedangkan peningkatan Unnatural lebih luas terkait peningkatan ekonomi makro.

Daya beli masyarakat pada perdagangan Konsumsi makanan dan minuman Kopi dan sejenisnya cukup menggiurkan, sehingga perekonomian tersebut disebut Unnatural.

Semua bisnis di Gorontalo dibuka, dengan mamatuhi protokoler kesehatan, dan Covid 19 dijadikan sebagai sahabat Masyarakat.

” Biarkan ekonomi jalan, Covid-19 jadi sahabat, dengan sahabat terlihat Covid 19 di kota Gorontalo berkurang,”.

Gorontalo tidak akan menghadapi Resesi

Sebenarnya keterbatasan kebebasan para pebisnis untuk berkarya dan menjalankan usaha mengakibatkan resesi, kalau para pebisnis diberikan kebebasan, penulis yakin tidak ada resesi, sehingga penulis jamin Gorontalo tidak mengalami resesi karena kebijakan Walikota membebaskan Pebisnis untuk berkarya dengan mematuhi Protokoler kesehatan.

Seperti di infokan bahwa Indonesia kini berada di ambang Resesi di kuartal II-2020 bahkan terkoreksi hingga 5,32%.

Kontraksi yang dalam ini dinilai sulit untuk pulih di kuartal III, sebab virus Covid-19 masih terus menyebar dan mengharuskan pemerintah masih menerapkan kebijakan pembatasan sosial.

Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beberapa kali mengatakan bahwa perekonomian di kuartal III kemungkinan masih akan berada di zona negatif. Namun, kontraksinya memang tidak akan sedalam di kuartal II lalu.

Para pengamat ekonomi tanah air bahkan menegaskan saat ini Indonesia sudah berada di jurang resesi. Hanya tinggal menunggu waktu pengumuman perekonomian kuartal III saja sebagai penegasan.

Dari hal tersebut, lebih lanjut Penulis mengatakan, bahwa Penyebab Resesi karna Para Pebisnis tidak bisa bekarya menjalankan usahanya, penyebab kontraksi emosional Covid 19 sudah terlalu berlebihan.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *