GP ANSOR Kotamobagu Mengecam Pementasan Teater “Pingkan Matindas”

JAKARTA– Pementasan teater Pingkan Matindas Cahaya Minahasa kembali menuai protes, kali ini kecaman berasal dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kotamobagu. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh ketua GP Ansor Kotamobagu Hamri Mokoagow.

Menurutnya teater yang terinspirasi dari sebuah Novel fiksi karya HM.Toulu tersebut sudah mengalami beberapa pergeseran sehingga sudah tidak sesuai dengan novel aslinya.


“ada beberapa yang berubah dan tidak sesuai dengan isi novel fiksi, sehingga menampilkan klimaks cerita yang kontras dengan cerita rakyat Mongondow” tegasnya.

Ditambahkan lagi olehnya bahwa walaupun itu merupakan sebuah karya yang sifatnya fiksi akan tetapi ketika di pertontonkan dalam ruang public maka seharusnya memiliki batas-batas aturan tertentu.


“Karya sastra harus kita hargai, tapi karya sastra yang baik di Indonesia khususnya Sulut jika dia menghargai toleransi Agama, suku dan budaya bangsa sebagai jati diri Indonesia” kata Hamri.

Generasi asli keturunan dari Datu Loloda Mokoagow yang turun dari kakeknya Abo’ Osen Linsawang Mokoagow tersebut kembali menegaskan bahwa Sikap Ansor ini karena selama ini memang Ansor Kotamobagu fokus pada nilai2 toleransi, dan pluralisme, sehingga hal itu dianggap sangatlah bertentangah dengan kemajemukan Sulawesi Utara karena latar historisnya yg sangat beragam.

pada hal itu maka selaku pimpinan GP Ansor Kotamobagu kami menyatakan sikap sebagai berikut ;
1). Karya sastra harus kita hargai, tapi karya sastra yang baik di Indonesia khususnya Sulut jika dia menghargai toleransi Agama, suku dan budaya bangsa sebagai jati diri Indonesia.

2). Lakon teater yang di sutradarai oleh Achi Breyvi Talanggai, yang diangkat dari Novel (HM Taulu ; 1931), telah merubah beberapa narasi dan kisah dalam novel tersebut, dan menampilkan klimaks cerita yang kontras dengan cerita rakyat Mongondow.

3). Sutradara Achi Rreyvi Talanggai, harus meminta maaf secara terbuka melalui saluran Media masa, baik elektronik maupun cetak, (audio – visual) terkait teater tersebut, karena telah merusak toleransi, budaya dan adat sesama warga Sulawesi Utara, terlebih bagi masyarakat Mongondow, Raja Datu Loloda Mokoagow adalah simbol adat, budaya serta ikon masyarakat Mongondow, sehingga hal tersebut bertentangan dengan ruang bathin Mongondow

4). Mengajak kepada aktivis, budayawan, sastrawan dan Seniman Mongondow untuk segera menyusun karya dalam bentuk penelitian, untuk penyusunan Buku maupun karya Loloda Mokoagow berdasarkan kisah yang komperhensif dan ilmiah serta dapat diperatanggung jawabkan sumbernya dalam rangka membangun narasi sejarah – budaya Mongondow secara utuh.

5). Kami akan siap mengawal proses ini sesuai hukum yang berlaku, bersama segenap Organisasi, OKP, Ormas adat dan budaya Mongondow, sebagai bentuk memberi efek jerah kepada pelaku sehingga kedepan kehidupan harmonis, toleran dan budaya dapat senantiasa terjadi di Sulawesi Utara,sebagaimana prinsip Sulawesi Utara yang menjunjung tinggi toleransi dan pluralisme sesama warga kawanua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *