Mengapa Digugat Hak Kepemilikan Tanah melalui PMH? Ini kata Agus Floureze?

JAKARTA_ Belakangan ini Bermunculan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dilakukan para pihak pihak dirugikan, diantaranya Perubahan Sertifikasi Hak Milik ( SHM) tanpa disertai Akta Jual Beli (AJB), Adanya Pelanggaran Klausula Baku dilakukan Kreditur untuk menjebak Debitur jika macet, dan lain sebagainya.

Ketika di Konfirmasi kepada Ketum LBH Phasivic Jakarta Pusat Agus Floureze, Kamis (5/11) Mengatakan bawah Salah satu dokumen penting yang harus ada saat proses jual beli tanah atau bangunan adalah Akta Jual Beli (AJB).

” Sepertinya Masyarakat Belum Memahami Hal Tersebut, Bagaimana Kekuatan AJB dalam Penguasaan Tanah, dan Syarat Multlak untuk Pengalihan Tanah adalah AJB,” Tegas Pengacara DKI Jakarta ini.

Ditanya Mungkinkah dengan adanya AJB ini cukup kuat untuk membuktikan kepemilikan atau tidak?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Agus Perlu menjelaskan Perlu ada beberapa hal yang harus dipahami terlebih dahulu, yaitu mengenai kepemilikan tanah dan konsep dari AJB itu sendiri.

“Kekuatan Akta Jual Beli (AJB) Rumah di Mata Hukum Kepemilikan Tanah
Setidaknya ada dua aspek pembuktian agar kepemilikan tanah tersebut dapat dikatakan kuat yaitu Bukti Surat dan Bukti Fisik,” tegasnya.

Diapun menerangkan terkait Bukti Surat Berupa Sertifikat Hak Milik (SHM) dan Bukti Fisik bahwa orang yang bersangkutan benar – benar menguasai secara fisik tanah tersebut, agar menghindari terjadinya dua penguasaan hak yang berbeda, yaitu hak atas (fisik) dan hak bawah (surat).


“Bukti ini berfungsi untuk memberi kepastian Hal ini penting di dalam proses pembebasan tanah, khususnya dalam pelepasan hak atau ganti rugi. Juga untuk memastikan bahwa si pemegang surat atau sertifikat tersebut tidak menelantarkan tanah tersebut, karena adanya fungsi sosial tanah,” tegas Anak Bangsa ini.

Disinggung bahwa Akta Jual Beli Tanah (AJB) Seperti yang telah disebutkan di atas, salah satu bukti terkuat kepemilikan tanah adalah sertifikat tanah. Lalu bagaimana dengan kedudukan AJB terhadap kepemilikan tanah tersebut?

Agus menjelaskan bahwa Dilihat dari pengertiannya, Akta Jual Beli (AJB) dapat didefinisikan sebagai bukti autentik atas peralihan tanah yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Maka AJB ini berperan sebagai bukti peralihan hak saja, bukan bukti kepemilikan atas tanah.

“Namun perlu diketahui juga bahwa AJB ini harus ada ketika akan membuat sertifikat tanah di PPAT,” ujar Penasehat FKPPI ini.

Calon Bupati Donggala ini mengatakan pula Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997, Pasal 37 Ayat 1 bahwa peralihan hak atas tanah, baik melalui jual beli, ataupun tindakan hukum pemindahan hak lainnya, hanya dapat dilakukan dengan akta yang dibuat oleh PPAT.

“Artinya kepemilikan tanah bisa dibuktikan dengan sertifikat hak milik. Sedangkan AJB yang dibuat di hadapan PPAT hanya memberikan bukti bahwa peralihan hak atas tanah dengan cara jual beli telah sah,” ujarnya.


Sehingga Agus Mengatakan Akta Jual Beli (AJB) bukanlah bukti kepemilikan tanah atas seseorang, AJB hanya berperan sebagai bukti telah dilakukannya peralihan kepemilikan dengan cara jual beli. Untuk memperkuat status kepemilikan tanah, sangat disarankan melakukan pengurusan sertifikat di Kantor Pertanahan.

” Tentunya AJB ini diperlukan ketika penerbitan sertifikat dilakukan,”di Akhir pembicaraan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *