MAJAPAHIT : Imperium Yang Dibangun Diatas Sumpah

Oleh : Abdul Hafid Bora

Jakarta 09 November 2020

MAJAPAHIT, begitu mendengar kata ini semua orang pasti akan teringat pada sebuah kerajaan yang pernah ada dan Berjaya di bangsa Indonesia. Bahakan fenomena social yang terjadi beberapa waktu lalu ada sekolompok orang yang mengklaim dirinya merupakan pewaris dari kemaharajaan tersebut dan mereka telah membentuk organisasi sejagad. Walaupun pada akhirnya mereka harus ditangkap oleh Negara dengan alasan tertentu.

Majapahit memang telah menjadi imperium adidaya pada abad ke-13. Bahkan hal itu oleh M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1991) mengatakan bahwa Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kerajaan yang diproklamasikan oleh Raden Wijaya tersbut telah mewujudkan dirinya dalam bentuk imperium maritim yang adidaya serta menguasai beberapa wilayah jajahan/wilayah koloni. Sebagaimana termaktub dalam Nagarakertagama, meliputi Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Indonesia bagian timur, termasuk Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga sebagian Maluku bahkan dalam buku Dinamika Islam Filipina, Burma, dan Thailand karya Choirul Fuad Yusuf (2013) mengungkap bahwa tidak kurang dari 98 kerajaan yang bernaung di bawah kuasa Majapahit. Pengaruh dan ekspansi Majapahit sampai pula ke negeri-negeri seberang, dari Semenanjung Malaya (Malaysia dan Brunei), Tumasik (Singapura), serta sebagian Thailand dan Filipina. Angkatan Laut Majapahit waktu itu sangat kuat sehingga disebut sebagai Talasokrasi atau Kemaharajaan Bahari.

Tidak untuk dipungkiri bahwa kejayaaan Majapahit yang diraih oleh Raja Hayam Wuruk tersbut berhasil karena dukungan Mahapatih Gajah Mada yang terus berusaha untuk mengaplikasikan Sumpah Amukti Palapanya yang melegenda. Sumpah yang diikrarkan di depan ratu Tribhuvana Tunggadevi tersebut menjadi dasar utama bagi sang perdana menteri untuk mengambil langkah-langkah keputusan politiknya. Sang perdana menteri berusaha untuk selalu mensinergiskan antara apa yang telah menjadi niat (Sumpah Palapa) dengan metode dan strategi yang mawujud dalam tindakan real dilapangan. Artinya sinergitas antara Zikir dan Fikir serta Amal Shaleh telah maujud dalam diri sang perdana menteri yang berakibat pada berdirinya sebuah Imperium jaya Majapahit. Tindakan dan pikirannya sudah selaras yang didasari pada niat.

Dalam menentukan pemimpin pemerintahan politik yang sangat visioner barometernya cukup sederhana yakni hanya dengan melihat keselarasan antara apa yang dipikirkan oleh sang pemimpin dengan tindakan yang dilakukan dilapangan. Perdana menteri di Majapahit telah membuktikan hal itu sehingga tidak mengherankan bila semua keputusan politik Gajah Mada pasti akan dilaksanakan oleh sang raja dalam hal ini Hayam Wuruk. Raja Majapahit sangat paham bahwa kebijakan politik yang diambil oleh perdana menterinya tersebut didasari atas ambisinya untuk mengeksistensikan majapahit di pentas dunia.

Dan hasilnya majapahit mampu berkuasa mempersatukan Negara-negara sekitar, Majapahit mampu menjadi pelopor gerakan di kawasan regional. Sebuah imperium yang dibangun diatas Pondasi Sumpah seorang Perdana Menteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *