NASIONAL
SUARA MERDEKA
July 29, 2021

MAJAPAHIT : Pahitnya Pemberontakan

Oleh : Abdul Hafid Bora

Jakarta, 25 November 2020

Pada coretan sebelumnya sempat di gambarkan bahwa Majapahit telah maujud dalam imperium yang adidaya. Imperium besar serta berjaya yang di bangun diatas pondasi sebuah sumpah. Akan tetapi kejayaan tersebut tidak serta merta di dapat oleh Majapahit. Imperium ini sempat mengalami lika-liku kehidupan politik kenegaraan yang rasanya cukup untuk dijadikan pelajaran berharga. Bahkan kerajaan ini sempat mengecap pahitnya buah pemberontakan (kalau enggan disebut Kudeta sih).

Bicara soal pemberontakan, ini merupakan sebuah wujud nyata dari ketidakpuasan rakyat terhadap sistem pemerintahan yang ada. Kebobrokan ekonomi,kemorosotan politik hingga sifat tirani atau kediktatoran pemimpin pastinya akan memberikan ruang bagi masuknya kepentingan politik dari luar yang di campur dengan ambisi pribadi. Belum lagi hal itu di tambah dengan Fitnah dan hasutan keji yang dianggap sangat halal untuk dimainkan dalam rangka memecah belah persatuan demi merengkuh kekuasaan.

Visualisasi masa lalu sudah sangat jelas bahwa kehidupan politk imperium adijaya Majapahit mencatat adanya peristiwa yang terjadi pada tahun 1319 M. yaitu peristiwa Kudeta yang di gelar oleh Ra Kuti bersama para Dharmaputra lainnya Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Yuyu, Ra Pangsa dan Ra Wedeng. Gelar kudeta ini berhasil menguasai Majapahit dengan menggulingkan Maharaja Prabu Jayanegara atau Kala Gamet. Dharmaputra sebenarnya merupakan gabungan pegawai khusus pengawal raja yang dibentuk oleh Prabu Kertarajasa atau Raden Wijaya.

Yang menjadi latar belakang gelar kudeta yang dilakukan oleh Ra Kuti karena adanya ketidakpuasan atas kepemimpinan Prabu Jayanegara sebagai raja yang dinilai tidak becus,terlalu lemah,plin-plan,mudah termakan hasutan dan otoriter. Bahkan Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama mengatakan alasan pemberontakan karena tidak puas dengan penobatan Jayanagara. Peristiwa kudeta ini dilancarkan langsung di ibu kota Majapahit. Dan yang perlu diketahui adalah peristiwa ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan pemberontakan Ra Semi. Untunglah Jayanagara dan segenap keluarga istana berhasil melarikan diri berkat satu kesatuan prajurit yang dikenal dengan nama bhayangkara yang dipimpin oleh seseorang bernama Gajah Mada.

Sangat lucu dan menggelitik,gerakan konsolidasi yang dibalut dengan provokasi serta hasutan yang dilakukan Ra Kuti terbilang sukses. Hal ini di buktikan dengan tokoh dan elit politk Majapahit hampir sepenuhnya dipihak Ra Kuti dan mendukung gelar kudeta yang dilakukan. Bahkan ironisnya Ra Kuti memiliki akses komunikasi yang aktif ke beberapa pejabat yang memiliki wewenang besar memimpin dua kelompok prajurit Majapahit dalam jumlah yang sangat besar,jadi bisa dipastikan lebih dari separuh kekuatan pasukan Majapahit berada dipihak Ra Kuti saat itu.

Hal itu menunjukan bahwa sebagaimana diketahui,prabu Jayanegara sejak penobatannya menjadi raja Majapahit tidak melahirkan simpati rakyat dan elit politik akan tetapi justru mewujudkan antipati di tingkat rakyat dan elit. Jadi isu soal raja tidak becus,raja lemah dan plin-plan serta raja otoriter menjadi sajian yang empuk bagi Ra Kuti untuk di mainkan. Sehingga konsolidasi kekuatan guna untuk melancarkan kudeta terwujud dan hasilnya prabu Jayanegara harus lari meninggalkan istana. Kudeta itu menghasilkan perang,menghasilkan darah serta kematian dan tumpukan mayat.

Seharusnya bangsa ini belajar dari masa lalu. Karena masa lalu akan memberikan penjelasan yang ril tentang apa yang harus dilakukan dan tidak perlu untuk dilakukan. Agar terhindar dari lubang-lubang kesalahan yang ada dalam lipatan-lipatan waktu sejarah.











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *