NASIONAL
SUARA MERDEKA
July 26, 2021

Denny JA dan Remy Sylado Di kala Sehat, Di Kala Sakit

Oleh Rahmi Isriana

Ketika seseorang berbuat buruk, entah itu menyakiti atau membuat kita marah, maka kita boleh membenci perbuatannya. Tapi tidak dengan membenci orang tersebut

Hari ini, saya belajar banyak tentang hal itu dari seorang Denny JA. Believe and Forgive.

Siapa yang tidak mendengar perdebatan intelektual antara Denny JA dan Remy Sylado. Keduanya memaparkan dan saling membalas di media sosial. Keduanya memiliki kekuatan yang menurut saya justru saling melengkapi.

Tidak terelakkan lagi, rekam digital menyimpan segala kenang itu. Hingga detik ini, saya bahkan masih bisa membaca ulasan-ulasan Remy Sylado tentang Denny JA. Pun sebaliknya. Lemparan ingatan itu, mendadak mentah ketika suatu malam, Denny JA menghubungi saya dengan membawa satu pertanyaan “Ami, benarkah kabar ini?”

Iya, Denny menyelipkan berita mengenai Remy yang tengah sakit. Saya melihat, pertanyaan itu mengandung kesedihan. Saya merasakan Denny turut prihatin dalam pertanyaan itu.

Pertanyaan berikutnya bagai godam yang menghantam pemahaman saya. “Ami, tolong tanyakan padanya, adakah yang bisa saya bantu?” Denny ingin membantu Remy? Ada apa? Setan dari diri saya muncul, apa tujuannya? Bukankah mereka berseteru?

Ya. Denny JA adalah orang yang melaksanakan perintah Allah. Dia melupakan segala hal yang melukainya demi membantu sesama manusia. “kemanusiaan, diatas apapun. Jangan sampai perseteruan menghalangi saya untuk membantu”

Ya. Saya adalah manusia awam. Yang dalam ingatan saya akan terus ada ingatan yang mengkristal menjadi dendam. Seseorang yang pernah menyakiti saya, seperti batu yang dibuang kedalam danau. Tersimpan dan mengendap. Batu itu, hari ini terkikis oleh Puisi Esai Berbagi.

Mari kita belajar dari DENNY JA. Ikhlas memberi bantuan, kepada siapapun yang membutuhkan. Bahkan ketika dia pernah terluka sekalipun.

Denny meletakkan kemanusiaan diatas sastra. Baginya, seorang sastrawan justru harus memiliki kelengkapan spiritual tersebut. Sebagai bagian dari pemilik kelembutan dan sikap kritis, Sastrawan harus memiliki kedalaman dan kepekaa untuk membantu sesama. Kepada siapapun. Bahkan yang berseberangan sekalipun.

Hari ini, saya menjalankan kembali program baik Puisi Esai Berbagi dengan tajuk Menjenguk Remy Sylado. Membawa amanah yang menggetarkan hati, dan benar-benar membuat tangan saya gemetar saat menyerahkannya.

Cepatlah sembuh Remy Sylado. Cepatlah kembali berkarya. Kami mencintaimu.

*Judul Asli: “Belajar dari Denny JA,” diambil dari Facebook Rahmi Isriana/Amoi AiRior

Link: https://www.facebook.com/100007238175572/posts/2784407371810508/?d=n











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *