Puisi Denny JA, Ketika Barisan Itu, Mengganggu Ibunda Dari Pak Menteri (1)

Denny JA

Suster Ida lama terpaku
Matahari di dadanya terbelah
Kini jam 4.00 subuh hari
Semalaman Ia tak tidur

Ia merenung di pojok
di kamarnya
Sendiri
Sepi

Lanjut atau tidak?
Keluar atau jangan?

Suster Ida di puncak gelisah
Ia mempertimbangkan keluar
dari Barisan itu
Barisan Penjaga Ahlak

-000-

Suster Ida teringat masa itu
Ia berjejer di bandara
Hatinya berbunga
Ia bahagia
Ingin memekik

Bandara, oh ramainya
Semua biru dari ujung ke ujung
Biru lambang cinta
Itu warna Barisan Penjaga Ahlak

“Selamat datang Pemimpin!”
“Kami Siap Revolusi!”
“Rindu kami padamu”

Demikianlah bunyi spanduk itu
Sang pemimpin baru kembali
Lama Ia mengungsi di luar negeri

Raja Malik.
Ya, Raja Malik nama sang pemimpin
Ia bukan Raja pemimpin kerajaan
Raja itu nama pemberian
Itu sebutan penuh hormat para pendukung

Suster Ida berdesakan
Ingin Ia menyentuh
Jika bisa mencium tangan
Oh itu yang Ia inginkan.

Hatinya bergelora
Hati yang berjanji:
“Raja Malik, Raja Malik
Kau putra kahyangan
Aku merapat di sisimu
Dulu, kini dan selamanya.”

Hari itu
Suster Ida tak masuk kerja
Menjemput Raja Malik pulang
Jauh lebih penting.

Di atas mobil itu
Raja Malik melambai tangan
Massa bersorak
Histeris
Pekik sana, Pekik sini:

“Revolusi Cinta!
Selamatkan Negeri ini!”

Tina sahabat Suster Ida
Ia berulang mengingatkan
“Ida, kau jangan terlalu fanatik
Terlalu menggebu
Nanti kau kecewa”

Suster Ida balik marah
“Jangan ajari Aku
Sok tahu
Ini panggilan hidupku
Jiwa raga kuberi”

-000-

Raja Malik tetap seperti dulu
Memukau jika pidato
Jika bicara terasa kuat
Menegakkan Keadilan
Berani alang kepalang
Dan diulang- ulang slogan itu
“Revolusi Cinta!
Now or Never!!

Yang hadir besorak
Riuh melebihi tepuk tangan untuk superstar

Raja Malik jika bicara
Selalu selang seling
Kadang bahasa Indonesia
Kadang kutipan bahasa Inggris

Luas pengetahuannya
Hebat auranya

Namun pelan pelan
Banyak yang mengganggu Suster Ida

Raja Malik seperti tak bisa dikritik
Seorang artis mencemoohnya
Segera dicap Raja Malik
“Lonte, Lonte!”

Suster Ida tak suka kekerasan
Ia miris ketika Raja Malik
memprovokasi

“Jika keadilan tidak ditegakkan,
Jangan salahkan kami.
Tiba tiba di jalan
Ada yang memenggal kepala.”

“Aduh,” reaksi sponton Suster Ida
Ia tak tahan bayangan itu
Kepala terpenggal
Darah muncrat.”

-000-

Keraguan suster Ida bertambah
Ketika Raja Malik semakin aneh

Ini era pandemik
Para petinggi dunia umumkan
Suka rela
Bahwa mereka terkena Virus Corona
Presiden Trump.
Pangeran Charles.
Perdana Menteri Boris Johnson.

Juga para kesohor negeri
ketua Umum NU
Pemimpin partai

Itu tanggung jawab mereka
Untuk kepentingan semua
Agar itu virus corona terlacak
Memudahkan kerja
Tim Satgas memerlukan data

Tapi ada apa dengan Raja Malik
Ia seperti menghindar

Suster Ida mulai bertanya dalam hati.
“Tahukah Raja Malik?
Merahasiakan data kesehatan
Ia bisa mencelakakan orang banyak?
Publik tak tahu.
Bisa tertular.

“Tahukah Raja Malik,
Di era pandemik,
Data kesehatan
Tiada boleh dirahasiakan? (2)

Suster Ida juga relawan
Lebih dari 100 dokter Indonesia wafat. (3)
Tertular pasiennya.

Suster Ida terus bertanya
Meyakinkan hati sendiri

“Terpapar Covid 19 bukanlah kejahatan!
Itu bukan maksiat!
Itu bukan tercela!

Mengapa kau rahasiakan Raja Malik?
Mengapa, junjunganku?”

Suster Ida semakin goyah.

-000-

Malam itu
Angin kencang menghempas hatinya
Pohon keyakinannya tumbang
Matahari di dadanya mulai retak.

Keraguannya memuncak
Itu setelah Barisan Penjaga Ahlak
Berseragam biru
Puluhan
Bahkan Ratusan
Mengepung rumah Ibunda pak Menteri
Ancamam dipekikan:
“Rumah ini akan kami bakar!
Jika Raja Malik dipenjara.”

Di kamar itu, Ida merenung
Foto ibunya almarhum
Tergantung di dinding itu
Tertulis di sana
“Surga berada di telapak kaki Ibu.”

Suster Ida semakin tak mengerti
Mengapa Barisan Penjaga ahlak
mengganggu Ibunda pak Menteri

Ibunda itu tak tahu apa apa
Ia sudah lanjut usia
Kebijakan negara itu urusan pak Menteri
Apa hubungan dengan sang Ibu?

“Dimana moralnya?
Dimana ahlaknya?
Dimana ajaran agama yang membolehkan ini?”

Matahari di dada suster Ida
Semakin retak
Sebelum subuh, Ia ingin memutuskan.
Dari Barisan Penjaga Moral itu,
Ia keluar atau tidak?

Detak jam bertalu
Seirima dengan bunyi tokek:
“Keluar, tidak?
Keluar, tidak?
keluar, tidak?

November 2020

CATATAN

  1. Kisah ini hanyalah fiksi walau diinspirasi oleh kisah nyata
  2. Aturan hukum jelas dipaparkan bahwa dalam rangka Testing, Tracing dan Treatment, pemerintah berhak tahu data kesehatan warga. Yang menolak berkerja sama, bisa dipidana
https://www.google.co.id/amp/s/m.liputan6.com/amp/4421333/headline-rizieq-shihab-tertutup-soal-penelusuran-covid-19-dapat-dikenai-sanksi-tegas
  1. Hingga puisi esai ini dibuat, sudah 168 dokter Indonesia wafat
https://amp.kompas.com/tren/read/2020/11/22/203300165/update–168-dokter-di-indonesia-meninggal-akibat-virus-corona

-000-

Sumber tulisan dari :
https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3445273988902059/?d=n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *