NASIONAL
SUARA MERDEKA
July 26, 2021

Hari Ibu, Denny JA Menulis Menafsir Permintaan Ibu Yang terakhir

Hari Ibu 22 Desember

MENAFSIR PERMINTAAN IBU YANG TERAKHIR

Denny JA

Hari Ibu, 22 Desember kali ini. Saya tak hanya teringat Ibu yang wafat tahun lalu. Juga tak hanya teringat permintaannya yang terakhir. Kini saya menafsir ulang permintaan terakhir Ibu.

Satu hari di bulan Desember 2018. Ibu sudah melemah. Sakit-sakitan. Entah mengapa saya merasa ini tahun bersama Ibu yang terakhir.

Kepada anak anak, beberapa kali saya pesankan untuk lebih sering menjenguk nenek. “Nyai tak lama lagi bersama kita.”

Perasaan itu datang begitu saja. Mungkin karena saya sangat dekat dengan Ibu. Kepadanya, acapkali selalu ada lompatan kesimpulan yang datang, entah darimana.

Ingin sekali saya memenuhi apa saja untuk membuat Ibu bahagia. Sejauh saya mampu, saya akan kerjakan. Terakhir kalinya.

Maka, awal Desember 2018, saya berkunjung pada Ibu. Sudah sekitar 7 tahun Ibu di kursi roda. Usia saat itu sudah 84 tahun.

Ibu juga sudah sangat jarang bicara. Menemani Ibu selama 2-4 jam, kadang hanya beberapa patah kata saja yang Ia ucapkan. Sisanya, Ibu bicara lewat mata.

“Coba mama cerita. Apa yang mama benar benar ingin sekali alami. Ingin sekali punya. Ingin sekali rasakan. Insha Allah jika mampu, Denny cari jalan memenuhinya”

Ibu menatap mataku. Matanya lebih berbinar. Tapi ibu hanya senyum saja.

Saya ulangi pertanyaan yang sama. Tapi dengan kata yang berbeda-beda. Dengan bahasa Palembang.

Juga tak ada jawaban. Saya tatap ibu. Saya cium keningnya. Saya juga diam. Menanti. Saya kerjakan segala daya untuk memberi pesan. Bahwa saya menanti jawaban Ibu.

Lalu keluar kata Ibu. Sedikit-sedikit. “Kau nyanyi,” ujar Ibu. “Menyanyi?,” tanya saya. Ibu mengangguk. “Di TV.” Ujar Ibu lebih lanjut.

Saya terperangah. “Mama pengen Denny menyanyi di TV?,” tanya saya menegaskan. Karena ini permintaan yang agak aneh. Benarkah?

Saya bukan penyanyi. Apalagi menyanyi di TV pula.

Ibu saya mengangguk. Menegaskan Ia ingin saya menyanyi di TV.

Tak putus asa, saya tanya lagi. “Oke Ma. Apalagi yang mama pengeeen nian. Kepingin sekali? Di samping Denny nyanyi TV, apalagi yang mama ingin?”

Saya berencana. Karena tak bisa memenuhi permintaan Ibu agar saya menyanyi di TV, setidaknya ada permintaan lain yang bisa saya penuhi.

Ibuku diam saja. Tak ada kata lain. Ia hanya senyum. Hingga saya harus pulang, Ibu tak mengucapkan permintaan lain.

Hanya itu kata yang sempat Ibu katakan. Saya menyanyi di TV.

-000-

Lama saya merenung. Bagaimana memenuhi permintaan Ibu. Memang saya banyak mengenal pimpinan dan pemilik TV. Tapi minta agar saya menyanyi di TV, alangkah anehnya.

Suara saya juga pas- pasan. Tak pernah bercita cita jadi penyanyi. Jika mengisi acara TV untuk Talk Show, itu masih bisa saya kerjakan.

Waktu itu saya menafsir permintaan Ibu kata perkata. Yang tersurat. Tekstual.

Saya merenungkan. Apa yang membuat Ibu ingin saya menyanyi di TV.

Mungkinkah Ibu sedang rindu ketika saya masih bocah. Saat itu usia saya sekitar 11 tahun. Kelas 4 atau kelas 5. Sekolah Dasar Xaverius II di Palembang.

Entah mengapa, saya dipilih guru untuk ikut bernyanyi di panggung sekolah. Saya pun sering latihan di luar jam sekolah.

Ibu acapkali mengantar. Dari rumah ke tempat latihan, berdua saja. Kadang saya dipangku Ibu. Kami naik becak. Nampak Ibu bangga sekali.

Acara dimulai. Ibu, Ayah dan beberapa kakak ikut menonton. Selesai menyanyi, penonton tepuk tangan. Biasa saja. Sama seperti tepuk tangan untuk petunjukan lain di panggung itu.

Tapi dari atas panggung, saya melihat ketika saya selesai menyanyi. Seorang Wanita tepuk tangan paling keras. Sambil berdiri pula. Berdiri sendirian. Itu Ibu saya.

Untuk pertama kali pula, saya mengenakan baju yang ibu sebut Baju Safari. Seperti baju jas. Kata Ibu, baju ini membuatku terlihat seperti bintang cilik.

Di tahun 2018 itu, saya mencoba memahami. Apakah memori masa kecil itu yang datang pada Ibu. Ia hanya rindu masa yang lalu.

-000-

Apa daya. Itu permintaan Ibu. Saya mencari jalan tengah. Karena mustahil menyanyi di TV. Sayapun menyanyi di Youtube saja.

Saya menghubungi teman yang biasa membuat Video lagu. Ia sarankan, saya main satu alat musik. Nanti ada pemain biola yang sedang naik daun ikut menemani: Hendri Lamiri.

Saya setujui saja. Yang penting saya menyanyi di rekam di Video. Muncul di Youtube. Saya akan tujukkan ke IBu lewat Handphone, dengan pesan: permintaan Ibu saya penuhi.

Ini peristiwa langka untuk ukuran saya, yang tak pernah menyanyi khusus, kecuali acara sekedar kumpul- kumpul yang terbatas.

Saya bawa rekaman itu ke rumah Ibu. Saya tunjukan di HP. “Ini mama. Permintaan Mama. Denny menyanyi. Lihat ya.”

Ibu senyum. Matanya berbinar. Tapi tidak senang yang meluap. Saya tak tahu persis apakah senangnya tidak puncak karena saya tak menyanyi di TV.

Karena terlanjur dimuat di Youtube, Video itu saya blast ke media sosial.

Sempat pula video itu trending. Sebanyak 120 ribu viewersnya. Pastilah itu bukan karena kualitas menyanyi saya, yang pas pasan saja. Bahkah minus.

Tapi mungkin pendengar terharu dengan motivnya. Seorang anak dewasa usia 50-an, menyanyi untuk Ibunya. Diposting di hari Ibu pula.

Saya menyanyikan lagu: “Ibu dan Lagunya,” karya Koes Plus. Mengapa lagu itu saya pilih? Itu dulu lagu kesukaan Ibu.

Teringat pertama kali saya mendengar lagu itu, ketika usia 9 tahun. Di tahun 1972. Saya mendengarnya lewat radio tua. Acara RRI. Mendengar lagu itu sambil dipangku Ibu.

Videonya bisa dilihat dalam link ini:

-000-

Menyambut hari Ibu di tahun ini, 2020. Lebih dari setahun sejak Ibu sudah wafat. Saya menafsir ulang. Mengapa Ibu meminta saya menyanyi di TV.

Itu permintaan terakhir yang penah ibu katakan kepada saya langsung. Setelah itu, Ibu semakin jarang bicara lewat kata. Tak pernah ada lagi permintaan lain, walau acap saya tanyakan.

Kini menyambut hari Ibu tahun 2020, saya pun memberi makna lain atas permintaan Ibu yang unik. Tafsir ini lebih sesuai dengan situasi saya.

Menyanyi yang Ibu maksud saya tafsirkan bukan menyanyi dalam pengertian tekstual. Bukan menyanyi layaknya Ebiet G Ade, atau Koes Plus.

Tapi itu menyanyi dalam pengertian metafor.

Menyanyi itu kiasan untuk bersuara ke publik. Memberikan pendapat. Memberikan perspektif. Menyebarkan inspirasi. Pencerahan. Mendakwahkan apa yang benar. Yang adil. Yang diperlukan.

Menyanyi dalam pengertian metafor memang cocok. Passion saya di sana.

“Mama, mungkinkah ini yang Mama maksud? Mama ingin anakmu terus aktif bersuara. Menjadi saksi zamannya?”

“Semoga tafsirku yang ini lebih berkenan padamu, Mama. Di hari Ibu, kukirimkan Alfateha untukmu. Semoga doaku sampai padamu, Mama.” ***

22 Desember 2020

Sumber tulisan: Facebook DennyJA_World

https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3496273810468743/?d=n










Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *