Tulisan Denny JA: Mengapa Natal Kini Dirayakan Juga Oleh Mereka Yang Non- Kristen, Dan Disrupsi Pengalaman Agama

Revolusi Peradaban keempat tak hanya mengubah dunia bisnis, teknologi, politik dan jurnalisme. Tapi ia juga mengubah pengalaman beragama.

PEW Research Center melaporkan. Disamping dirayakan oleh umat kristiani, kini Natal juga dirayakan oleh 81 persen umat non- kristen di Amerika Serikat (1)

Yang dimaksud non- kristen di sini, tak hanya pemeluk agama Budha, Hindu, Bahai, juga Muslim. Tapi juga mencakup mereka yang tak lagi percaya pada agama. Bahkan mereka yang tak lagi percaya pada konsep Tuhan yang dibawa oleh banyak agama besar.

Dengan suka cita umat non- kristiani ikut menyanyikan lagu Natal. Mereke menghias ruang tamu dengan pucuk pohon pinus.

Mereka sekeluarga merayakan Natal, walau tak percaya Yesus lahir 25 desember. Mereka menikmati bersama Hari Natal, wala tak percaya, ada manusia bisa lahir dari Bunda yang perawan.

Tapi mereka menyatu dengan populasi besar. Ikut berbahagia. Menyanyikan lagi natal. Kadang saling bertukar hadiah.

Bagi mereka Natal adalah peristiwa dan pengalaman kultural. Asyik untuk ikut tenggelam dan pengalaman rohani yang massif, khidmat dan sangat unik itu.

Pew Research Center menguraikan data itu lebih detail. Sekitar 76 pesen Asia-Amerika penganut Budha merayakan Natal. Sekitar 73 persen Amerika-Hindu juga merayakan Natal.

Research itu juga melaporkan. Sebanyak 32 persen Yahudi, dan tak sedikit keluarga Muslim di Amerika juga merayakan Natal.

Sebuah paper juga ditulis: Mengapa Muslim Asia Tenggara juga merayakan Natal: Sebuah Acculturation Trade-Off (2).

Ani Zonneveld, seorang Muslimah tokoh Muslim Progresive Values, bahkan menjadi tuan rumah mengundang para tamu merayakan Natal. Mereka bernyanyi lagu Natal bersama.

Dengan akrab mereka menikmati hidangan dan membagi kasih sayang.

Hussein Allouch, tokoh Muslim di Denmark, juga mengundang para sahabat dari berbagai keyakinan datang ke rumahnya, merayakan Natal.

Bagaimana menjelaskan fenomena itu?

-000-

Dua hal ini sedang terjadi yang menyebabkan disrupsi pemahaman agama.

Pertama, di sebagian segmen masyarakat post- modern kini sudah melampaui tahap kritis, skeptis dan anti agama. Mereka mengambil sisi posif hari besar agama sebagai pengalaman kultural belaka.

Sebagian tetap tak percaya agama Kristen. Bahkan tak percaya pada agama manapun. Tapi agama tak lagi mereka dekati dengan pendekatan benar atau salah. Tahap itu sudah mereka lampaui.

Mereka mendekati agama sebagai kekayaan budaya saja. Dan kekayaan budaya itu milik semua manusia.

Ini kesadaran yang sudah melampaui era skeptisime agama yang tumbuh sejak 1960-an dengan dominannya penemuan dalam Biblical Archeology.

Di masa itu, di masa awal dominannya Biblical Archeology, mata dunia banyak terbuka karena penemuan aneka riset arkeologi.

Di era itu mulai dikenal pemisahan Yesus of Faith and Yesus of History. Betapa Yesus yang hidup di dunia nyata sangat berbeda dengan yang dikembangkan dalam dunia keyakinan (3).

Para arkeolog juga menyimpulkan. Nabi Musa dan eksodus itu bukan tokoh dan peristiwa sejarah. Itu hanya kisah mitologi, yang dikarang Rabi Yahudi. (4)

Kisah kelahiran Nabi Musa, yang ketika bocah dibuang ke sungai, lalu ditemukan oleh seorang pekerja Istana. Lalu ia diangkat menjadi anak Raja. Dan akhirnya kembali ke tanah kelahiran menjadi Nabi.

Kisah Nabi Musa itu menurut Arkeolog meniru kisah yang lebih tua, yang tersimpan dalam dokumen lebih tua. Itu kisah Sargon of Akad, Raja peradaban paling tua Summariah, sekitar 2300-2500 sebelum masehi.

Kisah Raja Sargon dari Akad, juga serupa. Ia ketika bocah dibuang di sungai, ditemukan oleh pegawai istana lain. Ia diadopsi menjadi anak. Kemudian ketika dewasa kembali ke tanah kelahirannya menjadi Raja.

Terlalu banyak kesamaan kisah Nabi Musa dengan Sargon of Akad. Masalahnya, dokumen Sargon of Akad hadir terlebih dahulu dibandingkan Bible.

Termasuk pula kisah Nabi Nuh. Ilmu membuktikan tak pernah ada banjir badang seluruh dunia yang mampu menenggelamkan semua. Untuk menenggelamkan Himalaya, jumlah air yang ada di semesta tak cukup.

Kisah Nabi Nuh juga menyerupai kisah yang berasal dari dokumen lebih tua: kisah tokoh bernama Utnapishtim. Ia tercantum dalam dokumen lebih tua dibanding Bible: Epic of Gilgamesh yang hadir sejak 5000 tahun lalu. (5)

Aneka penemuan itu menimbulkan skeptisisme di kalangan sebagian ahli. Bahwa banyak kisah Nabi dalam Taurat dan Injil sebenarnya ditulis ulang oleh Rabi yahudi, berdasarkan kisah rakyat dari dokumen yang lebih tua.

Komunitas belakangan hari lalu menambahkan bumbu “wahyu” dalam kisah Nabi itu.

Bahkan sudah pula ditelusuri soal Who Wrote the Bible (6).

Tapi kini era skeptisime atas agama itu bagi sebagian sudah berlalu. Apalagi ini zaman hadir sebanyak 4300 agama. Setiap agama mengembangkan konsep Tuhan, ritual dan kisah masa lalunya yang saling berbeda.

Datangnya era Hak Asasi Manusia mengubah yang skeptis atas agama menjadi bertoleransi. Bahkan lebih jauh, bersimpati dan ikut menikmati pengalaman agama sebagai kekayaan kultural belaka.

-000-

Kedua, bangkitnya persepsi akan pentingnya komunitas, kebersamaan, persahabatan, dan perayaan.

Banyak temuan dari studi mengenai Happiness menekankan itu. Hubungan personal antar individu, yang hangat, yang saling menghargai, itulah sila pertama kebahagiaan.

Bukan harta. Bukan kekuasaan. Bukan jabatan. Yang membuat bahagia itu adalah hubungan interpersonal.

Bangkit kembali penghargaan atas komunitas. Tapi apa daya. Ini era yang majemuk. Setiap individu hidup di dalam lingkaran budaya dan agamanya sendiri.

Akulturasi budaya, bahkan akulturasi agama terjadi. Semua bercampur saling mempengaruhi.

Terjadi disrupsi dalam pengalaman beragama pada sebagian komunitas. Mereka beragama atau mereka tidak beragama secara rileks saja.

Bersama mereka merayakan Tahun baru. Bersama merayakan Thanks Giving Day. Bersama merayakan Gong Xi Pachai. Bersama pula merayakan Natal. Pada waktunya, bersama pula merayakan Hari Raya Idul Fitri dan Bulan Ramadhan.

Bagi komunitas di level kesadaran ini, semua agama adalah kekayaan peradaban milik semua. Nikmatilah. Bersahabatlah. Bahkan: Rayakanlah.

-000-

Tentu saja komunitas yang beragama dan tak beragama secara rileks, tak hadir sendirian.

Di zaman ini juga hadir penganut fanatik 4300 agama. Setiap agama juga melahirkan penganut militannya, dengan mindset yang sama sekali berbeda.

Sebagian mereka percaya hanya agamanya yang benar. Ajaran agamanya harus murni, tak boleh bercampur dengan tradisi kafir (apapun definisi kafir ini). Bahkan mereka bersedia bom bunuh diri untuk keyakinan agama.

Kaum fanatik itu sah pula untuk hadir. Prinsip negara modern sudah pula menggariskan, sejauh tidak melakukan kekerasan, tidak memaksa kehendak, semua bebas percaya apapun soal akherat sana.

Zaman sudah berubah. Warna kesadaran publik semakin luas.

Ada kelompok non-kristen yang masih semangat soal halal atau haram mengucapkan Natal.

Tapi ada pula yang unik lain. Ketika terdengar lagu Natal, sebagian komunitas yang bukan Kristen, bahkan tak percaya agama, ikut bersenang, menyanyi bersama, hadir dengan hati yang penuh.

Selamat Natal bagi yang merayakan***

24 Desember 2020

CATATAN

  1. Pew Research Center melaporkan betapa penganut non-Kristen di Amerika Serikat ikut merayakan Natal
https://www.google.co.id/amp/s/www.pewresearch.org/fact-tank/2013/12/23/christmas-also-celebrated-by-many-non-christians/%3famp=1
  1. Sebuah paper mengeksplorasi mengapa Muslim ikut merayakan Natal di wilayah ketika mereka minoritas
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0148296317303181
  1. Dimulainya studi mengenai Yesus of Faith versus Yesus of History
https://www.jstor.org/stable/3154962
  1. Beberapa temuan yang menyatakan Nabi Musa itu bukan tokoh sejarah, dan kemiripannya dengan kisah rakyat yang lebih tua: The Sargon of Akad
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sargon_of_Akkad
  1. Temuan yang menyatakan kisah Nabi Nuh menyerupai dan dramatisasi kisah rakyat dari dokumen yang lebih tua: Epic of Gilgamesh.
https://time.com/44631/noah-christians-flood-aronofsky/?amp=true
  1. Aneka kisah Nabi itu tertulis di Bible. Tapi sebenarnya, siapa yang menulis Bible?

Sumber tulisan: Facebook DennyJA_World

https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3501109769985147/?d=n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *