Suamiku DiIsolasi di Kamar W1-007, Karya Denny JA

SUAMIKU DIISOLASI DI KAMAR W1-007

Denny JA

(Hingga akhir tahun 2020, sepuluh orang yang bekerja di lingkungan LSI Denny JA dan Inspirasi.Co terkena positif virus corona. Empat diantaranya dirawat di Wisma Atlet. Yang lain menyebar di beberapa rumah sakit rujukan.

Kisah dibawah ini adalah fiksi tapi diinspirasi oleh kisah sebenarnya, yang mereka alami.

Puisi esai ini didedikasikan untuk para suami dan para istri teman- teman LSI Denny JA dan Inspirasi.Co, yang dipilih oleh alam semesta mengalami serangan virus corona. Semoga lekas sembuh) (1)

-000-

“Dik Rosa. Aku harus pindah rumah sakit.
Tambah parah.”

Singkat saja teks ini.
Tapi
Bom atom meledak di hatiku.

Ampun suamiku.
Tabah ya.

Menetes air mataku.
Kupeluk tiga anakku
Sejak semalam mereka bertanya
Ayah dimana?

Kubalas teks suamiku
“Kak Janggi,
Boleh aku yang mengantar kakak?”

“Jangan, Dik.
Nanti kau tertular
Jaga anak anak saja.
Ambulan segera datang.”

Walau sudah sebelas tahun menikah.
Aku tetap memanggilnya Kak
Ia tetap memanggilku, Dik
Kami tak hendak mengubah
Sejak kenal dulu
Sejak pertama kali tatap
mata.

Suami membutuhkanku
Walau dilarang
Aku menerjang.
Walau dikekang
Aku datang

Sekejap mata aku bergegas
Segera ke rumah sakit
Sudah kusiapkan segala
Pakaian APD
Mobil pengantar
Kutahu rumah sakit begitu sibuk
Ambulan akan antri

Kupejam mata
Berdoa:

“ya Allah, kuatkan Aku
Biarlah aku saja
Kuantar suamiku
Pindah rumah sakit.

Lindungi Aku
Jangan buat aku tertular
Kasihan anak- anakku.”

Ini air mata
Menjadi mata air

Badanku lunglai
Sejak suamiku di rumah sakit
Tapi ini tenaga
Entah dari mana
Membantuku bergegas
Ke Rumah Sakit

Benar yang kuduga
Ambulan tak kunjung tiba
Alhamdulilah
Aku diperbolehkan menyetir
Di mobil ini
Hanya aku duduk depan
Suamiku duduk di belakang

Petugas memberi pedoman
Apa yang boleh
Apa yang tak boleh
Agar aku tak tertular

Pelan tapi pasti
Mobil bergerak
Rumah Sakit Pusat Pertamina
Di Simprug, Kebayoran Lama
Jakarta Selatan
Kami datang padamu

Semua tubuhku tertutup
Pun kupakai kaca mata
Semua tubuh suamiku tertutup
Juga pakai kaca mata

“Ya Allah
Ingin kupeluk suamiku
Ingin kuusap rambutnya
Ia nampak lemas sekali
Berilah separuh nyawaku
Untuk suamiku
Berilah separuh tenagaku
Untuk cintaku.”

Tapi dokter melarang
Aku hanya boleh menatap
Itu pun dengan jarah yang jauh

Kulihat dari kaca di mobil
Suamiku duduk terkulai
Menguat- nguatkan badan
Agar tegak
Ia tak ingin aku terlalu sedih

Di dalam mobil
Suami berkata
Lemah itu suara
Tak semua kata terdengar

Suami bertanya soal anak anak
Sudah kusiapkan cerita
Semua membuat tawa
Semua yang ceria saja
Ia butuh ketenangan

Suamiku memang tertawa
Sudah kuduga
Tapi ku tahu
Ia pura pura saja
Agar aku tenang
Rasa sakit itu Ia sembunyikan
Tapi semakin kuasa

Selesai pindah rumah sakit
Aku kembali bergegas
Di mobil ini
Sendiri
Tumpah semua tangisku

Dokter berkata
Serangan virus suamiku tak ringan

ya Allah
Jangan dulu ambil suamiku
Aku belum siap
Tak pernah siap
Turunkan mujikzatMu

Di mobil ini
Hanya ada aku
Dan air mata

-000-

Jam 2 subuh
Baru selesai sholat tahajud
Setiap tengah malam
Kuberdoa
Untuk suamiku
Untuk kesembuhannya
Hanya itu
Yang kubisa

9 hari sudah suami tak di sini
Kamar ini kami susun berdua

Kulihat data dunia
Hingga akhir tahun 2020
Sudah 83 juta yang terpapar (2)
Di Indonesia, terpapar 743 ribu (3)

Wahai virus corona
Betapa kau begitu kuasa
Setahun sudah
Meraja lela

Di rumah sakit
Kamar isolasi suami selalu kuingat
W1-007
Wing 1, kamar 007
Itu nomor “James Bond.”
Teks suamiku berseloroh

Kujawab jenaka:

“Kamu memang James Bond
Akan kakak tundukkan itu virus
Tembak saja.
Tapi jangan ambil hobi James Bond lain.
Ngebut.
Perempuan cantik.”

“Hahahahaha.”
Singkat suamiku merespon

Tengah malam ini
Sangat sepi
Rinduku padamu, kak Janggi
Suamiku.
Belahan jiwaku.

Kubuka lemari
Pakaian umroh masih rapih
Rencana 11 tahun pernikahan
Bersama bedoa di Mekkah
Bersama sholat di Madina

Di facebooknya
Suamiku memposting
Perayaan pernikahan kami
Foto sarapan pagi yang kuantar

Suamiku suka bubur Ayam
Kumasak dengan hatiku
Kutulis secarik kertas
Selamat Ultah perkawinan

Kutitip pada penjaga
Khusus hari ini
Hari perkawinan kami
Kuingin suamiku memulai pagi
Membaca kartuku

Tak sabar kutunggu
Teks suami masuk ke Handphoneku

“Dik Rosa,
Maafkan aku
Tak ada bunga yang kukirim
Tak ada kecupan yang kuberi
Ultah perkawinan kita rayakan
Hanya jarak jauh
Kuingin kau tahu
Kaulah pahlawan hidupku.”

Entah mengapa
Air mataku selalu menetes saja
Setiap membaca kata
Dari suamiku

Dua kali suamiku jatuh di kamar mandi
Tak sadar diri
Lembam dan biru pipinya
Terbentur lantai

Suhunya pernah tinggi sekali
Petugas bercerita
Beberapa kali suami mengingau
Memanggil namaku

Virus sudah menyerang paru paru

Aku terus menangis
Berdoa:
“Ya Allah, jangan ambil dulu suamiku.”

-000-

Suamiku multi talenta
Ia penulis
Ia pembicara
Pengusaha
Juga aktivis

Satu dari usahanya berjaringan
Usaha konsultan politik

Di kantor pusat kudengar
9 orang lain juga terkena positif corona
Di era pandemik, dan pilkada
Itu profesi yang rentan

Bulak balik ke daerah
Jumpa orang banyak

Siapa yang terkena virus
Sungguh tak terduga

Satu pimpinan itu
Betapa Ia hati hati
Sangat
Selalu lengkap jaga jarak
Masker
Cuci tangan
Justru, Ia yang terkena positif

Ada pula yang serabutan
Acap lalai protokol kesehatan
Ia justru tak terpapar

Kuingat jumpa suamiku
Sejak masa remaja
Di masa awal pernikahan
Ia banyak menulis buku

Tapi buku yang ini tak kunjung selesai
Suami lebih sibuk
membuka usaha ini dan itu
Merintisnya
Bangkrut
Tegak lagi
Bangkrut
Maju lagi

“Mengapa sila pertama Pancasila
Ditulis Ketuhanan
Bukan Tuhan?
Mengapa ada awalan “Ke”
Mengapa ada akhiran “an”
Bedakah Ketuhanan dan Tuhan?” (4)

Suamiku acap mengekspresikan
Itu menjadi isu
Ia terobsesi
Tumpukan dokumen di sana
Selesai Ia baca
Riset ke berbagai pustaka
Sudah pula
Wawancara tokoh sejarah
Selesai jua
Tapi buku tak kunjung ditulis

“Buku ini,” ujar suamiku,
“sebuah batu bata.
Ia akan menyumbang pada dinding peradaban Indonesia baru.
Toleran.
Tanpa Diskriminasi”

“Ketuhanan itu semua konsep Tuhan.
Esa itu bukan satu tapi prima.”

“Apapun agamamu,
Kepercayaanmu
Konsep Tuhanmu
Bahkan yang tak percaya konsep Tuhan agama besar,
tetap dilindungi oleh kata Ketuhanan.”

“Apapun konsep Tuhan yang disembah,
Satu, atau Dua, atau Tiga
Atau banyak
Atau Tuhan itu semesta ini sendiri,
Ia dilindungi oleh kata Esa,
yang artinya Prima, bukan satu.”

“Hati- hati kak,” ujarku khawatir
“Itu isu sensitif.
Nanti darahmu dibilang halal
untuk dibunuh.”

“Hahahahah
Suamiku tertawa
menenangkanku.”

Tqpi buku itu tak kunjung ditulis

-000-

Matahari pertama tahun 2021
1 Januari
Alhamdulilah
Suamiku memposting fotonya
Di Facebook
Segar
Ceria

“Dik Rosa,
Mungkin aku dibolehkan isolasi mandiri
di rumah saja.”

“Disarankan 14 hari lagi
Jangan dulu jumpa siapapun
Bosanlah aku.”

Kuingatkan suamiku
Buku yang tak kunjung Ia tuntaskan
“Mungkin ini kehendak alam semesta
Agar kakak menuntaskan buku itu
Mumpung terisolasi.”

“Buku yang mana?
Ia balik bertanya.
“Itu: soal beda Ketuhanan dan Tuhan.”

“Oh, iya.”
Suami mengirim ikon kuning tersenyum.”

“Ya, Dik
Ternyata aku harus kena Virus Corona dulu
Agar bisa dipaksa menuntaskannya

“Hahahaha,” teks suamiku ceria

Tapi aku menyesal
Mengapa aku ingatkan topik itu
Sangat sensitif

Di Indonesia, isu agama semakin garang.
“Aduh, aku tak ingin
Suamiku lepas dari virus corona
Tapi diserang virus lainnya:
Itulah virus paling tahan lama
Virus fanatisme agama.”

1 Januari 2021

CATATAN

  1. 10 orang di lingkungan LSI Denny JA-Inspirasi.Co terkena positif Virus Corona: Budi, Hanggoro, Fitri, Fajar, Widi, Bilal, Fikri, Luki, Suhartono, Ruly dan Fahd Pahdepie

Kisah ini banyak diinspirasi oleh kisah Fahd Pahdepie

  1. Jumlah terpapar virus corona di dunia ketika kisah ini ditulis: 83.806.857 orang
https://www.worldometers.info/coronavirus/
  1. Jumlah terpapar virus corona di Indonesia ketika kisah ini diselesaikan 743.198
https://www.worldometers.info/coronavirus/
  1. Soal beda Ketuhanan dan Tuhan, Esa dan Satu, banyak dieksplor, antara lain dalam esai berikut:
  • Sumber tulisan: Facebook DennyJA_World
https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3520729811356476/?d=n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *