Soal MK dijadikan Tersangka Polda Gorontalo, Agus Floureze Menilai Sangat Buru buru, Bisa Jadi Adanya Peluang Lapor Balik

JAKARTA– Siapa yang Tak Kenal Mantan Ketum YLKI Gorontalo selama 16 Tahun, Agus Floureze sebelum Karirnya melejit Di Ibukota Negara sebagai Pengacara Handal, Kini dengan Kedudukannya sebagai Ketum LBH Phasivic Jakarta Pusat dan Komisaris Utama PT Nasional Suara Merdeka angkat bicara soal Dugaan Kasus Pelecehan yang dilakukan Dosen Berinisial MK, Menurutnya Kasus tersebut Penuh dengan Trik Hukum Politik.

Menurutnya Kasus di Alamatkan ke MK masih mentah dan tabuh menjadikan sebagai Tersangka Psikis, karena diduga akan terjadi Laporan Balik dari MKbterkait Penerapan ITE , Baik Terhadap Media Maupun Pengacaranya.

Menurut Agus bahwa kasus ini terlalu dibesar-besarkan karena sering sekali di publis di media. Bahkan, sering juga beritanya tidak berimbang karena tanpa klarifikasi dari pihak MK. Menurut Agus, ini jelas hanya upaya penggiringan opini publik saja.

“Berdasarkan pernyataan Humas Polda Gorontalo pada hari Jum’at (9/4/2021), status MK sudah ditetapkan sebagai tersangka, tetapi pada dugaan kekerasan psikis berdasarkan pasal 45 ayat (1) UU nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. Ancamannya adalah 3 tahun. Sedangkan untuk dugaan kekerasan seksual seperti apa yang sering di publis di media, belum bisa dipastikan, artinya belum bisa dibuktikan” Kata Agus.

Meskipun demikian, masih ada juga upaya untuk menggiring opini publik bahwa tersangka MK diancam dengan hukuman 15 tahun penjara, padahal berdasarkan keterangan Humas Polda Gorontalo, sekarang MK disangkakan melakukan kekerasan psikis dengan ancaman 3 tahun”. Lanjut Ketum LBH Phasivic Jakarta yang juga sebagai Sekjen KBPP Polri ini.

Namun, Agus meyakini bahwa masyarakat sekarang sudah cerdas untuk memilih dan memilah berita mana yang patut untuk dibaca dan dipercaya. Sehingganya, apapun usaha yang dilakukan untuk menggiring opini publik, akan sia-sia karena masyarakat kita sudah cerdas.

“Harapan saya kepada rekan-rekan media agar senantiasa selalu menjaga profesionalitas dan keberimbangan informasi, karena media adalah salah satu pilar penyangga demokrasi, jangan merusak peran strategis media tersebut hanya demi kepentingan pribadi atau golongan tertentu”, tutup Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *