NASIONAL
SUARA MERDEKA
July 27, 2021

Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia!

World Press Freedom Day atau Hari Kebebasan Pers Sedunia, menjadi acara tahunan yang diselenggarakan setiap tanggal 3 Mei.

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh pada hari ini, Senin (3/5/2021) adalah untuk menyuarakan perlindungan media dari ancaman atas kebebasan, serta untuk mengenang para jurnalis yang kehilangan nyawa dalam bertugas.

Dikutip dari Wikipedia, Hari Kebebasan Pers Sedunia diproklamasikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1993 menyusul diadopsinya Rekomendasi sesi ke-26 pada Konferensi Umum UNESCO tahun 1991.

Acara tahunan ini menjadi upaya untuk mendorong dan mengembangkan inisiatif dalam mendukung kebebasan pers, dan untuk menilai keadaan kebebasan pers di seluruh dunia.

Tanggal 3 Mei bertindak sebagai pengingat kepada pemerintah dari kebutuhan untuk menghormati komitmen terhadap kebebasan pers, dan juga hari refleksi kalangan profesional media tentang isu-isu kebebasan pers dan etika profesional.

Hari Kebebasan Pers Dunia, juga merupakan hari peringatan bagi wartawan yang kehilangan nyawa dalam tugas peliputan.

Tahun ini, Hari Kebebasan Pers Sedunia mengusung tema “Information as a Public Good”, yang artinya “Informasi sebagai Barang Publik”.

“Terkait World Press Freedom Day (WPFD) 2021 bahwa tema tahun ini adalah “Information as a Public Good” yang artinya “Informasi sebagai Barang Publik”, kata Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, dikutip dari laman resmi UNESCO, Senin (3/5/2021).

Inti dari mandat UNESCO adalah kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. UNESCO percaya bahwa kebebasan ini memungkinkan adanya saling pengertian untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan

“(3 Mei) adalah tanggal untuk mendorong dan mengembangkan inisiatif yang mendukung kebebasan pers, dan untuk menilai keadaan kebebasan pers di seluruh dunia,” tulis UNESCO.

“Informasi sebagai Barang Publik, menggarisbawahi pentingnya informasi yang terverifikasi dan andal yang tak terbantahkan. Hal ini menekankan pada peran penting jurnalis yang bebas dan profesional dalam memproduksi dan menyebarkan informasi ini, dengan menangani misinformasi dan konten berbahaya lainnya,” tulis Audrey Azoulay.

UNESCO menjabarkan, tema “Information as a Public Good” berfungsi sebagai seruan untuk menegaskan pentingnya menghargai informasi sebagai barang publik, dan mengeksplorasi apa yang dapat dilakukan dalam produksi, distribusi dan penerimaan konten untuk memperkuat jurnalisme, dan untuk memajukan transparansi dan pemberdayaan tanpa meninggalkan siapa pun.

Menurut Audrey Azoulay, tema Hari Kebebasan Pers Sedunia, tahun ini sangat relevan untuk semua negara di seluruh dunia.

“Ini mengakui sistem komunikasi yang berubah yang berdampak pada kesehatan kita, hak asasi manusia kita, demokrasi dan pembangunan berkelanjutan,” tulisnya.

Untuk menggarisbawahi pentingnya informasi dalam lingkungan media online, World Press Freedom Day 2021 menyoroti tiga topik utama, yakni pertama, langkah-langkah untuk memastikan kelangsungan ekonomi media berita.

Kedua, mekanisme untuk memastikan transparansi perusahaan Internet, dan yang ketiga, peningkatan kapasitas Literasi Media dan Informasi (MIL) yang memungkinkan orang untuk mengenali dan menghargai, serta mempertahankan dan menuntut, jurnalisme sebagai bagian penting dari informasi sebagai barang publik.

DI Indonesia, kebebasan pers mulai dirasakan sejak 23 September 1999, saat Presiden Indonesia BJ Habibie mengesahkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) yang mencabut wewenang pemerintah untuk menyensor dan membredel pers.

Sayangnya, walau kebebasan pers sudah tercantum dan diatur dalam undang-undang, masih banyak sekali kasus yang mengancam kebebasan pers bahkan mengekang dengan berbagai bentuk ancaman. 

Tahun 2020, merupakan tahun yang paling buruk bagi dunia jurnalis Indonesia. LBH Pers mencatat kekerasan jurnalis ada 117 kasus yang menimpa jurnalis di tahun 2020, naik signifikan mencapai 32 persen jika dibandingkan tahun 2019 sebanyak 79 kasus.

Jumlah kekerasan jurnalis di 2020 merupakan angka tertinggi sejak reformasi. Lebih dari 70 kasus pada tahun 2020 berakar pada jurnalis yang meliput demonstrasi Omnibus Law.

Lalu beralih ke tahun ini, menurut data kekerasan yang tercatat pada paruh awal tahun 2021 kasus kekerasan pada jurnalis sudah terjadi 4 kali. Meliputi kekerasan fisik, doxing, intimidasi, ancaman, dan pengusiran. Kejadian serupa tak hanya sekali dua kali, namun setiap tahun pasti terjadi. 

Peran pers dalam negara demokrasi sangatlah penting, bahkan insan pers kerap disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Tapi selama ini posisi jurnalis sebagai profesi yang penting dalam industri pers kurang mendapat perhatian dan sering mendapat kekerasan saat menjalakan tugas profesinya.

Semoga dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun ini, tidak ada lagi kekerasan yang mengancam profesi jurnalis.

Kebebasan pers dan kebebasan berekspresi mutlak diterapkan untuk membangun perdamaian berkelanjutan. Terakhir, Selamat Hari Kebebasan Pers Sedunia!

PENULIS : M. Rain Daling, S.Hum / NSM











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *