NASIONAL
SUARA MERDEKA
August 5, 2021

Mempelajari Keteladanan Sunan Giri, Zainul Milal Bizawi: Berdakwah dengan Merangkul bukan Memukul

JAKARTA– Sejarawan santri Zainul Milal Bizawi mengajak umat Islam Indonesia untuk belajar dari keteladanan Sunan Giri yang berdakwah dengan cara merangkul dan bukan memukul.

Zainul menyampaikan ajakan itu saat mengisi acara Ngabuburit Bersama Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDI Perjuangan, di Jakarta, Selasa.

Acara yang ditayangkan jelang berbuka puasa itu mengambil tema “Dakwah Kultural Sunan Giri, Merangkul Bukan Memukul”. Host acara ini adalah Rano Karno, Sekretaris BKNP PDIP dan juga anggota DPR RI.

Sebagai seorang sejarawan, Zainul menjelaskan Sunan Giri memiliki peranan penting dalam pengembangan dakwah Islam di Nusantara, dengan memanfaatkan kekuasaan dan jalur perniagaan.

“Ketika Walisongo yang lain tidak dekat dengan kekuasaan, kondisi berbeda pada Sunan Giri. Sebab beliau adalah keturunan trah Brawijaya,” kata Zainul dalam siaran persnya itu.
 
Meski memiliki akses pada kekuasaan, namun Sunan Giri justru tak memanfaatkan kondisi tersebut untuk menghilangkan tradisi Hindu pada masa itu.

“Tapi justru beliau biarkan saja, dirangkul pelan-pelan, kemudian disisipi nilai-nilai keislaman,” ujar Zainul.

Kedudukannya sebagai penguasa menjadikannya begitu mudah dalam merangkul semua kalangan. Sunan Giri bisa memahami kondisi sosial politik saat itu, dan digunakan untuk melakukan dakwah.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, meskipun Sunan Giri berdomisili di daerah Gini, namun pengaruhnya merambah hingga ke Madura, Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok.

“Sunan Giri ini sangat cerdas, meskipun secara kedudukan ia berdomisili di Giri, tapi penyebarannya begitu luas, sampai Lombok, Kalimantan, dan bahkan sampai ke Minangkabau,” ujarnya pula.

Sunan Giri juga mengembangkan sistem pendidikan berbasis pesantren pada masanya. Dalam dakwahnya, Sunan Giri menggunakan pendekatan kultural, seperti menciptakan beberapa tembang dan permainan untuk anak-anak. Salah satu yang cukup dikenal adalah cublak-cublak suweng.

Permainan itu pun diyakini memiliki makna dan pesan filosofis yang cukup mendalam, yaitu mengajarkan agar manusia tidak menuruti hawa nafsu dan keserakahan dalam mencari harta atau kebahagiaan.

Namun, gunakan hati nurani dan tetap rendah hati, agar harta atau kebahagiaan yang diperolehnya mengandung berkah untuk diri sendiri dan orang lain.

“Sunan Giri menggunakan model akulturasi dengan memanfaatkan kekuasaannya yang juga merangkul masyarakat biasa dengan kesenian,” kata dia pula.

Baginya, kisah Sunan Giri ini juga menyiratkan betapa pentingnya untuk membuka lagi buku-buku sejarah yang bercerita tentang budaya yang sudah ada dan berkembang, sehingga kelestarian budaya Nusantara tetap terjaga.

Karena itu, ujarnya lagi, jangan sampai anak-anak bangsa saat ini menghancurkan kebudayaan, karena sejarah Nusantara adalah sejarah dari para Wali Songo, seperti yang dilakukan oleh Sunan Giri.

“Tradisi yang sudah ada sebaiknya dijaga. Tradisi atau budaya bukanlah syirik melainkan terdapat nilai-nilai yang positif termasuk dengan nilai untuk menjaga alam. Bung Karno pernah mengatakan untuk ber-Tuhan dengan kebudayaan. Yang artinya kita harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan juga toleransi,” ujar Zainul.

Program Ngabuburit BKNP PDIP dengan tema besar ‘Mata Air Kearifan Wali Songo’ hadir setiap hari pada bulan Ramadhan pukul 17.00 WIB. BKNP juga menggelar kegiatan yang sama sebelum sahur.











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *