NASIONAL
SUARA MERDEKA
August 4, 2021

Kisah Porter Tanah Abang di Masa Pandemi, Menguras Tenaga Lantai Demi Lantai

Rabu 05 Mei 2021 09.53 WIB
Pewarta: Andri Al Victor

JAKARTA — Menjelang Ramadhan dan di masa pandemi ini, peningkatan pengunjung pasar Tanah Abang memang naik drastis. Tetapi hal ini tidak berdampak langsung terhadap naiknya penghasilan porter atau pramu angkut pasar Tanah Abang yang berjumlah ratusan.

Lalu lalang porter atau pramu angkut di pasar Tanah Abang sudah jadi pemandangan yang biasa. Mereka layaknya pasukan berseragam yang dengan sigap dan cepat menawarkan segala tenaganya bagi para pengunjung pasar. Menjadi pramu angkut tak mengenal batas usia, dengan bermodal tenaga yang kuat saja sudah cukup bagi pramu angkut untuk mengumpulkan rejeki demi rejeki. Untuk menjadi pramu angkut di pasar Tanah Abang, seorang calon pramu angkut harus terlebih dahulu membeli seragam Rp 300.000 di seorang mandor sebagai identitas profesinya. Setelah itu, mereka juga mesti menyewa troli yang digunakan khusus untuk mengangkut barang yang berat, Rp 5.000 untuk sekali angkut. Rp 50 ribu atau lebih adalah jasa yang harus dibayar pengunjung atau pelanggan untuk per 1 kuintal barang atau sesuai kesepakatan. Para pramu angkut juga mesti rutin menyetor sejumlah uang pada mandor masing-masing seminggu atau dua minggu sekali. Di antara pramu angkut, ada yang mendapatkan Rp 200.000 – Rp 300.000 per harinya. Tapi faktanya memang tidak berlaku bagi semua, sebut saja Pak Darmin.

Pak Darmin (70) saat ditemui sedang berdiri di depan pintu masuk Pasar Tanah Abang Blok A. Kepalanya sesekali menengok ke sana ke mari, matanya sigap melihat dan bertanya pada pengunjung yang butuh tenaganya, menunggu panggilan toko langganan atau sekedar menyiapkan tenaga ekstra untuk segera memikul barang dari satu lantai ke lantai lainnya.

Aktifitas Pak Darmin ini sudah berjalan kurang lebih 20 tahun lamanya, bahkan di saat Ia semestinya mengurangi aktivitas berat, dari jam enam pagi sampai tubuhnya sudah tidak kuat walau pasar belum tutup, apalagi Ia masih tekun berpuasa, begitu penuturannya.

Penghasilan yang Pak Darmin dapat tidak tentu, terkadang sehari bisa sampai Rp 200.000 bahkan Rp 50.000, “penghasilannya itu gak tentu kan. Gak bisa diyakinkan gitu ya. Kalau ada, ada. Kalau gak, gak gitu ya, ” jelas Pak Darmin ikhlas. Hal lain juga mengenai jarak rumah pak Darmin yang jauh di Bekasi. Untuk mengakalinya, juga seperti rekan kerjanya yang lain, menyewa kamar di rumah warga kampung sekitar pasar jadi solusi paling bijak. Biaya yang Ia keluarkan Rp 8.000 per hari dan/ berbeda dari yang lainnya. Kesempatan untuk pulang bertemu istri dan cucu di rumah terpaksa Ia jalani seminggu sekali. Tak pelak kerinduan pada sanak keluarga membekas dan segera mengering di tiap lantai yang Ia lewati.

Di saat orang seusianya sedang bermain bersama cucu di rumah, membaca berita terkini atau sekedar minum secangkir kopi di pagi hari sembari mendengar suara burung bernyanyi. Ada seorang suami yang terus bekerja bukan buat liburan, bukan pula buat belanja sana sini, hanya demi kebutuhan pokok rumah tangga dan tetap menjadi panutan bagi anak dan ketiga cucunya. Begitulah realita hidup, akan selalu ada orang-orang seperti Pak Darmin yang selama hidupnya akan terus berjuang dan berjuang. Semangat berjuang!











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *