NASIONAL
SUARA MERDEKA
July 27, 2021

JATAM. Berikut Catatan Panjang Konflik Pertambangan

Jakarta – Johansyah selaku Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Merah mengungkapkan, operasi pertambangan yang dilakukan di Indonesia mempunyai luasan konflik hingga mencapai 1,6 juta hektare atau kurang lebih sekitar 3 kali luas pulau Bali.

Berikut catatan panjang selama 2014-2020, operasi pertambangan menyebabkan luasan konflik yang semakin banyak, karena berkaitan dengan kapasitas dan kerentanan warga. Hal tersebut disampaikan dalam peluncuran data laporan bencana akibat ekstraksi energi fosil yang dipantau dari Jakarta.

Dalam laporan itu, konflik terjadi antara Masyarakat yang berhadapan dengan koorporasi maupun aparat yang membela perusahaan-perusahaan tambang.

Merah juga menjelaskan, bahwa konflik tersebut diiringi dengan praktik kriminalisasi, seperti yang terjadi dalam penolakan proyek tambang batu andesit untuk kebutuhan tanggul bendungan di Wadas, Purworejo, Jawa Tengah, beberapa hari yang lalu.

Beberapa warga ditangkap oleh aparat kepolisian terkait dengan aksi penolakan proyek tambang tersebut. Padahal, mereka menolak karena mereka tidak terima lahan produktif tempat mencari nafkah dan menggantungkan hidup, dirusak demi sebuah bendungan.

“Sebenarnya tidak hanya di Wadas saja, konflik juga banyak terjadi di daerah lain. Kami mencatat sepanjang 2014-2020 terdapat 269 korban kriminalisasi dan penyerangan.” Ujar Merah.

Praktik kriminalisasi dan penyerangan terhadap warga ini menggunakan beberapa instrumen regulasi, tak hanya Undang-Undang Pertambangan, tetapi juga ada 20 pasal dan 7 undang-undang yang lainnya. Seperti kasus yang dialami para nelayan di Kodingareng, Sulawesi Selatan yang menolak pertambangan pasir laut untuk reklamasi Makassar New Port.

Mereka dikriminalisasi dengan Undang-Undang tentang Mata Uang, karena salah satu nelayan menolak upaya suap yang dilakukan oleh perusahaan dengan cara merobek amplop yang berisi uang.

“Ekstravisme pertambangan, smelter, dan PLTU batu bara juga akan mengundang bencana terus menerus dan semakin berlanjut hingga mengancam keselamatan rakyat dan menjadikan mereka semua sebagai pengungsi sosial ekologis permanen.” Imbuh Merah.

Oleh Trisna Bayu Windya











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *