NASIONAL
SUARA MERDEKA
August 5, 2021

Mantan Pendiri OPM , Ceritakan OPM di Asut Orang Belanda? Akhirnya Dianggap Teroris

JAKARTA -Benih lahirnya Organisasi Papua Merdeka atau yang disingkat OPM awalnya bermula dari pemerintah Belanda yang tak rela melihat Papua bergabung dengan Indonesia.

Hal tersebut berdasarkan pengakuan mantan tokoh pendiri OPM, Nicolaas Jouwe.

Nicolaas Jouwe adalah seorang pemimpin Papua yang pernah terpilih sebagai Wakil Ketua Dewan Nugini dan mengatur koloni Belanda di Nugini Belanda.

Sejak konferensi perundingan menyerahkan Irian Barat (kini Papua) ke Indonesia pada Oktober 1962, Nicolaas bertolak ke Belanda.

Ia justru tak ingin kembali ke tanah kelahiran di Papua, jika Papua masih terikat dengan Indonesia.

Hingga akhirnya ia mendapat kejelasan dari Presiden Amerika John F Kennedy, terkait silsilah cerdiknya Belanda menguasai Sabang hingga Merauke.

Dirinya bercerita pada 17 Agustus 1945 yang diresmikan sebagai hari kemerdekaan Indonesia, sebenarnya di dalam sudah termasuk Irian Barat atau Papua.

Namun, pemerintah Belanda berusaha membungkam informasi masuk ke sana. Mereka tak ingin orang Papua tahu bahwa Indonesia telah merdeka, termasuk mereka.

“Kemerdekaan itu sudah pernah diproklamasikan oleh Bapak Soekarno dan Bapak Hatta itu sudah termasuk Papua juga. Kami sama sekali tidak boleh bicara dengan orang luar negeri. Kami tidak boleh tahu kalau kami ini orang Indonesia. Belanda larang,” kata Nicolaas.

Tak berhenti di situ, Belanda membuat siasat supaya Papua dan Indonesia bermusuhan. Mereka mendoktrin bahwa bangsa Melayu itu berbeda dan tidak layak bergabung.

“Belanda bilang, ‘Kamu itu orang Papua, mereka itu orang Melayu. Itu bukan bangsa kamu’. Belanda sengaja bikin ngana supaya permusuhan kami dengan Indonesia itu timbul,” ungkap Nicolaas.

Kemudian, Belanda juga menjanjikan kemerdekaan pada Papua. Pembelotan itu dengan memancing penghuni asli di sana membuat organisasi militer baru.

“Saya harus mengaku bahwa Indonesia itu musuh. Pemerintah Belanda bilang bahwa, ‘Kamu akan merdeka nanti. Jadi kamu mesti dirikan militer sendiri’. Orang Papua didorong dan dipaksa untuk ambil bagian di organisasi,” terangnya.

Kedekatan Nicolaas dengan pemerintah Belanda, menjadikannya sebagai orang kepercayaan.

Kemudian terjadi lah pembentukan benih OPM, sebuah kelompok kecil yang awalnya bergerak sebagai sukarelawan, dan berujung menjadi organisasi militer kecil.

“OPM lahir bukan dari keinginan bangsa Papua. Tapi dari pikiran beberapa orang serdadu, semua orang Papua tidak tahu. OPM dibentuk oleh suatu golongan kecil, awalnya korps sukarelawan,” ujar Nicolaas.

Kepemimpinan Tanah Air di bawah Soekarno, ia merintis negara dengan apik. Tak tanggung-tanggung, demi menyatukan kembali Papua dari tangan Belanda, ia sampai bertandang ke Amerika.

Soekarno meminta tolong untuk mengembalikan Papua ke Indonesia. Sesuai dengan wilayah kekuasaan Hindia Belanda.

Akhirnya tanggal 15 Agustus 1962 di New York, Belanda-Indonesia dihelat konferensi perundingan. Setuju bahwa kepulauan Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi

“Presiden Soekarno bertemu rombongan ke Massachusetts, bertemu Presiden Kennedy. Lantas pertemuan itu menjadi pertemuan yang baik sekali. Presiden Kennedy bilang, ‘What can i do for you?’. Presiden Soekarno minta Irian dikembalikan ke kita. Lantas Kennedy perintahkan dia punya wakil, susun suatu rencana konferensi Indonesia-Belanda yang harus diakhiri dengan penyerahan kedaulatan dari Papua,” ucap Nicolaas.

Berkat konferensi tanggal 1 Mei 1963 United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) resmi menyerahkan wilayah Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia.

Seraya masih tak terima dengan keputusan itu, Belanda kembali mengadu domba. Mereka menguatkan OPM, mendoktrin untuk membuat bangsa sendiri. Nicolaas termasuk tokoh besar di dalamnya.

“Justru karena politik Belanda yang tak mau lihat Papua masuk Indonesia dia jalankan suatu politik di luar kemauan bangsa. Mereka mau Papua bergabung dengan bangsa lain di Pasifik Selatan. Mereka meluaskan bangsa Papua dan menyiapkan lambang kebangsaan. Di antara lain saya ditunjuk untuk tanggung jawab bendera Bintang Kejora,” papar Nicolaas.

Semenjak Papua resmi masuk wilayah Indonesia, Nicolaas tak terima. Ia angkat kaki dan menetap di kota Delft, Belanda. Sebuah momen luar biasa baginya, berjumpa dengan Presiden Amerika John F Kennedy.

Pikiran Nicolaas menjadi lebih terang setelah Presiden Kennedy menceritakan awal mula Belanda datang, serta kelicikan yang disusunnya selama ini.

Ia pun tersadar setelah mendengar penjelasan aturan resmi mengapa Papua bisa masuk di dalam Indonesia. Ya itu karena Papua masih berada di wilayah Sabang-Merauke.

“Kennedy bilang kepada saya, ‘Ya saya bisa ceritakan itu. Pada tanggal 24 Agustus 1828, pemerintah Belanda memerintahkan gubernur jenderal Hindia Belanda di Batavia, ambil itu Pulau Papua dengan satu proklamasi, terangkan itu daerah, masukkan kerajaan Belanda dan masukkan dalam sejarah Hindia Belanda’. Dengan kata lain, Hindia Belanda diperluas dari Sabang ke Merauke,” terangnya.

Di tahun 2010 akhirnya Nicolaas kembali ke tanah kelahiran dan menjadi WNI. Sebelumnya yang pro-kemerdekaan Papua, beralih menjadi pro-Indonesia.

Ia bercerita di tahun 2008, kisah hidup Nicolaas Jouwe pernah ditayangkan sebagai film dokumenter di Belanda.

Film tersebut bercerita mengenai sikap tegasnya yang menolak kedudukan Indonesia atas Papua Barat.











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *