June 26, 2022

Pandemi, Bersabar Untuk Tidak Mudik

JAKARTA– Kuartal pertama tahun 2021 baru saja kita lalui. Mei kita jalani. Ada perasaan optimistis, meski masih diliputi kekhawatiran pandemi.

Vaksinasi dilakukan dan diperluas. Data harian covid-19 mulai dapat dikendalikan lonjakannya. Namun kita jangan optimistis berlebihan, lantaran ancaman dan perubahan situasi bisa drastis jika disiplin kita kendor.

Kedisiplinan kita menjaga protokol kesehatan dan upaya vaksinasi yang makin masif semoga melindungi peningkatan aktivitas ekonomi yang juga sangat diperlukan untuk hidup.

Perang belum dimenangkan dan belum berakhir. Jangan dulu berpuas diri. Jangan merasa situasi sudah terkendali. Jangan merasa sudah aman. Begitu pernyataan Jokowi di awal Mei.

Sebuah pernyataan yang bijak di tengah ancaman memburuknya situasi ada di depan mata bersamaan dengan menggeliatnya pasar-pasar atau pusat belanja ramai membeludak menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Ingat! Covid-19 belum berakhir. Lindungi keluarga, jangan mudik dulu. Pesan Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Letjen TNI Dr. (H.C.) Doni Monardo, akhir April 2021.

Mudik akan menjadi lebih berisiko apabila seseorang kemudian bertemu dengan anggota keluarga di rumah yang termasuk dalam kategori kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak hingga penderita penyakit penyerta atau komorbiditas.

Angka kematian akibat Covid-19 telah mencapai 85 persen, dimana kasus kematian didominasi dari mereka yang masuk dalam kategori kelompok rentan, terutama mereka yang berusia di atas 47 tahun dan memiliki komorbid. kata Doni, yang juga kepala BNPB, awal Mei.

Sejumlah upaya dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Larangan mudik lebaran 2021, yang kini telah diberlakukan mulai 6-17 Mei 2021, sebagai upaya pengetatan pergerakan orang dalam jumlah besar di waktu besamaan.

Masyarakat dapat memahami dan mewaspadai bahwa yang menjadi perantara atau pembawa virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 adalah manusia, bukan hewan seperti jenis penyakit yang lain. Harapan Doni. Harapan pemerintah juga.

Seseorang yang telah membawa dokumen hasil negatif Covid-19 sekalipun masih dapat tertular oleh orang lain ketika melakukan perjalanan.

Hindari mudik atau pun bepergian, terutama dari daerah atau kota dengan kasus Covid-19 yang masih tinggi ke kampung halaman. Ini sama saja membawa virus mematikan yang penularannya sangat cepat. 

Meski peniadaan mudik adalah keputusan politik negara, aturan ini dilakukan semata-mata untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19, dan telah diputuskan melalui berbagai pertimbangan berbasis data. Kata Doni awal Mei.

Memutuskan tidak mudik bertujuan untuk menghargai sesama, terlebih orang tua atau sanak saudara di kampung halaman. 

Yang berbahaya adalah mereka yang masuk dalam kategori orang tanpa gejala.

Setiap hari, penularan Covid-19 masih terjadi. Di Indonesia, Covid-19 rata-rata memakan 4 nyawa manusia setiap jamnya. 

Sebanyak apa pun tempat tidur, RS, bahkan tenaga kesehatan di Indonesia, tidak akan pernah cukup jika terjadi lonjakan kasus yang disebabkan oleh penularan penduduk yang bepergian secara masif. 

Dengan kebijakan peniadaan mudik, pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengadakan acara keluarga dalam rangka Lebaran secara virtual.

Muncul perasaan kecewa. Dua kali lebaran didapati larangan mudik. Ritual tahunan yang merekatkan silaturahmi dan menguatkan akar kultural masing-masing dari kita tidak bisa dilakukan.

Kita harus sadar, demi kesehatan, keselamatan dan kebaikan bersama. Masih ada cara lain untuk tetap bersilaturahmi dan menguatkan akar kultural masing-masing dari kita meskipun tidak mudik.

Saat situasi seperti ini, teknologi memberi fasilitas pengganti untuk menunaikan silaturahmi kita. Menguatkan akar kultur kita.

Mari seluruh pemangku kebijakan di tiap-tiap daerah dapat bersinergi dengan apa yang telah disepakati dari pusat.

Mari kita mendukung upaya memutus mata rantai penularan Covid-19 dengan taat dan mematuhi aturan.

Seluruh komponen dapat memahami bahwa negara tengah berperang melawan pandemi Covid-19 dan dibutuhkan kekompakan serta kebersamaan.

Mari kita berkontribusi menjalankan disiplin protokol kesehatan. Tidak mudik Lebaran 2021 adalah kontribusi baik.

Kita berharap, kontribusi baik bersama membuat kita bisa melalui libur Lebaran 2021 dan bulan Mei 2021 dengan hati tenang dan penuh kesabaran.

PENULIS : M. Rain Daling, S.Hum / NSM











Leave a Reply

Your email address will not be published.