NASIONAL
SUARA MERDEKA
August 5, 2021

Masyarakat Harus Tahu, Inilah Ciri Ciri Birokrasi Desa Bermasalah dan Melanggar Hukum

JAKARTA -Nasional Suara Merdeka – Banyaknya program subsidi dan sosial yang digelontorkan Pemerintah Pusat dan Daerah ke Pemerintah Desa bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus membantu warga masyarakat menjadi lebih sehat dan sejahtera. Namun, tidak sedikit Dana program yang bersumber dari APBN dan APBD Provinsi tidak tepat sasaran alias diselewengkan oleh pejabat terkait, hal inilah yang menjadi penyebab mandeknya pembangunan dan pemerataan kesejahteraan di berbagai pelosok negeri.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini adalah beberapa ciri birokrasi desa yang dianggap bermasalah dan perlu diawasi bersama oleh masyarakat luas.

  1. Daftar Nama Keluarga Penerima BLT Dana Desa tidak dipublikasikan
    (UU No 14 Tahun 2008, Perki No 1 Tahun 2018, Permendagri No 20 Tahun 2018).
  2. Laporan Realisasi Kegiatan sama Persis dengan RAB. (Permendagri No 46 Tahun 2016, Permendagri No 20 Tahun 2018, PMK 50 Tahun 2020).
  3. Lembaga Desa diisi oleh famili Kades dan pendukung Kades. (Permendagri No 18 Tahun 2018).
  4. BPD pasif dan tak pernah melakukan evaluasi pada laporan realisasi. (Permendagri No 110 Tahun 2016 dan 111 Tahun 2015).
  5. Kades memegang seluruh keuangan Desa, sedangkan Kaur Keuangan hanya sebagai petugas pengambil anggaran. (Permendagri No 20 Tahun 2018, PMK No 193 Tahun 2018,PMK No 205 Tahun 2019).
  6. Perangkat Desa tidak melaksanakan tupoksi sesuai dengan jabatannya dan jarang hadir masuk Kantor Desa. (Permendagri No 84 Tahun 2015, Permendagri No 20 Tahun 2018, PMK 193 Tahun 2018, PMK No 205 Tahun 2019, LKPP No 12 Tahun 2019).
  7. Banyak Jabatan ganda dalam berbagai lembaga dan kegiatan desa. (Permendagri No18 Tahun 2018).
  8. Perangkat Desa yang jujur dan vokal, tidak diikutsertakan dalam berbagai kegiatan (Permendagri No 84 Tahun 2015, Permendagri No 20 Tahun 2018, UU No 14 Tahun 2008, Perki No 1 Tahun 2018).
  9. Banyak kegiatan terlambat pelaksanaannya /molor dari jadwal, padahal anggaran sudah dicairkan seperti tidak menyalurkan BLT Dana Desa. (Permendagri No 114 Tahun 2014, Permendes No 17 Tahun 2019).
  10. Musyawarah Desa khusus yang diundang hanya pendukung Kades dan BPD. Masyarakat yang kritis, cerdas dan vokal tidak dilibatkan dalam setiap musyawarah. (Permendes No 114 Tahun 2014, Permendes No 17 Tahun 2019).
  11. Tidak ada laporan realisasi pada awal tahun anggaran dalam bentuk banner yang dipasang pada tempat-tempat strategis.
    (UU No 14 Tahun 2008, Perki No 1 Tahun 2018, Permendagri No 20 Tahun 2018).
  12. Bumdes tidak berkembang. (Permendes No 4 Tahun 2015).
  13. Belanja barang/jasa dimonopoli Kades.
    (Permendagri No 20 Tahun 2018, PMK 193 Tahun 2018, PMK No 205 Tahun 2019, LKPP No 12 Tahun 2019).
  14. Penyuplai barang/jasa dipilih dari orang yang dekat dengan kades/pendukung kades.
    (Permendagri No 20 Tahun 2018, PMK 193 Tahun 2018, PMK No 50 Tahun 2020, LKPP No 12 Tahun 2019).
  15. Tidak ada sosialisasi pada masyarakat sekitar atas sebuah kegiatan Anggaran Desa yang akan dilaksanakan. (Permendagri No 114 Tahun 2014, Permendes No 17 Tahun 2019).
  16. Kepala Desa marah ketika masyarakat menanyakan anggaran kegiatan dan Anggaran Desa. (Permendagri No 114 Tahun 2014, Permendagri No 20 Tahun 2018, Permendes No 17 Tahun 2019, UU No 14 Tahun 2008, PMK No 193 Tahun 2018, PMK 205 Tahun 2019, LKPP No 12 Tahun 2019).
  17. Kepala Desa tidak Melakukan Program Kerja dalam Pemerintahan untuk Perangkat Desa sebagai pembantunya. (UU Desa no 6 Tahun 2014).

Sudrajat











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *