NASIONAL
SUARA MERDEKA
August 4, 2021

Kisah Sukses Penjual Bunga Hias Penerima Bantuan Kemensos

Kota Batu – Siti Muthmainah, salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) asal Kota Batu, Malang, Jawa Timur, mengundurkan diri dari kepesertaan Program Keluarga Harapan (PKH).

Hal tersebut dilakukannya pasca mandiri secara ekonomi dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial (bansos) PKH dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Menekuni praktik kewirausahaan dengan melakoni usaha mandiri jualan bunga hias sejak 2014 itu lambat laun meningkatkan perekonomian keluarganya.

“Alhamdulillah, melalui usaha berjualan bunga yang saya tekuni, kondisi ekonomi keluarga telah mampu,” kata Siti saat dikunjungi Pendamping PKH Kota Batu, Moch. Ferry Cahyono, 12/05/2021.

Moch. Ferry mengatakan salah satu peran edukasi yang diberikan Pendamping PKH yaitu dengan melakukan kegiatan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau Family Development Session (FDS) setiap bulan.

Dalam tiap pertemuan itu, KPM diberikan materi pengetahuan yang telah disiapkan Kementerian Sosial melalui berbagai modul.

Materi yang diterima adalah Pendidikan dan Pengasuhan Anak di Rumah, Perlindungan Anak, Kesehatan dan Gizi, Ekonomi dan Perencanaan Usaha, maupun Kesejahteraan Sosial.

Materi-materi pengetahuan dari Kemensos untuk penerima manfaat diberikan secara berkelanjutan.

“Inilah yang kami bekali pada KPM bahwa perubahan pola pikir dan perilaku bisa direncanakan sehingga mereka tidak hanya sekedar menerima bansos saja, namun ada pembinaan, pemberdayaan, konseling, pengaduan masalah dan semacamnya di dalamnya,” terang Ferry.

Menurut Ferry, kunci dari sukses graduasi ini juga tidak lepas dari upaya sinergi antara Pendamping PKH dengan perangkat desa setempat.

“Dukungan ini sangat penting karena yang akan graduasi adalah warga mereka,” tambahnya.

Siti Muthmainah menjual beragam jenis bunga, mulai dari Walisongo, Tree Color, Bunga Gantung, Janda Bolong, Monstera, Keladi, sampai Aglonema, dan bunga hias lainnya.

Ia berjualan bunga hias di sebuah lapak yang ia sewa tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Ia menceritakan usaha bunga, yang lantas diberi nama ‘Dahlia Florist’ itu, dirintis berbekal kemauan dan keinginan berubah lebih baik bersama suami.

Ibu dua anak tersebut mulai berjualan bunga pada 2014 dengan skala terbatas.

“Sebenarnya, masih ada kendala saat itu, misalnya modal terbatas atau bahkan omzet penjualan naik turun,” ujar Siti yang resmi graduasi mandiri beberapa waktu yang lalu.

Meski begitu, lanjutnya, ia tidak patah semangat. Dari minggu ke minggu, di samping pelanggan semakin bertambah, omzet penjualan juga terus meningkat.

“Selama sebulan, penjualan bunga dilakukan empat kali. Awalnya, hanya di Kota Malang dan Kabupaten Malang saja. Lambat laun, mulai meluas ke Surabaya, Gresik dan Lamongan,” katanya.

Tujuh tahun sudah Siti menekuni usahanya. Kini, ia juga telah graduasi dari PKH. Meski begitu, ia masih memiliki harapan-harapan untuk diwujudkan.

“Harapan ke depan, saya ingin memiliki lahan sendiri, usaha tambah berkah dan lancar, pekerja yang membantunya bertambah sehingga bisa membuka lapangan kerja baru,” harap dia.











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *