June 26, 2022

Masyarakat dan LBH Phasivic Menolak PT TMS Masuk Di Tambang emas di Pulau Sangihe Sulut

Jakarta– Belakangan ini tambang emas di Pulau Sangihe Provinsi Sulawesi Utara marak dibicarakan banyak pihak. Semua elemen yang peduli akan lingkungan wajib mengambil sikap. Pulau Sangihe yang memiliki ukuran 736 kilometer persegi ini sudah terancam.

Menurut Undang-Undang, Pulau Sangihe seharusnya tidak layak ditambang. Penjelasan ini disampaikan oleh juru bicara gerakan Save Sangihe Island @save.sangihe, Samsared Barahama.

“UU Nomor 1 Tahun 2014 menegaskan pulau-pulau dengan luas daratan kurang dari 2.000 kilometer persegi masuk dalam katehori pulau kecil yang dilarang ditambang,” ujar jubir tersebut.

Selain itu, disana terdapat Gunung Sahendaruman yang masuk wilayah pertambangan sesuai izin usaha pertambangan (IUP). Padahal gunung tersebut merupakan resapan air utama Pulau Sangihe yang juga tempat tinggal burung endemi yang sempat dikira punah, yakni Manu’ Niu atau Seriwang Sangihe.

Keberadaan burung endemi tersebut kian terancam dengan adanya rencana eksploitasi emas yang berpotensi menghancurkan hutan tempat tinggal mereka.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kami nanti,” ungkap Bu Niu, sebagai warga yang menolak tambang.

Mengenai hal ini, Agus Floureze, pemimpin redaksi Media Nasional Suara Merdeka, sekaligus pengacara nasional dan Ketua Umum LBH Phasivic Jakarta Pusat yang berkediaman di Pusat Jakarta, beliau menolak dengan tegas PT TMS di Wilayah Pulau Sangihe Provinsi Sulawesi Utara.

“Jelas. Saya menolak dengan tegas eksploitasi Pulau Sangihe oleh PT TMS ini, dan Nanti saya akan Kunjungi Daerah itu, ” tutup Tim Pengacara Hercules Rosario Marshal.

Prastika – NSM- Sumber Fajar.Co.id











Leave a Reply

Your email address will not be published.