June 26, 2022

Selama Pandemik Covid-19 Permintaan Peti Mati Meningkatkan

SUMUT-Dari awal tahun 2020 lalu di Indonesia Pemerintah Pusat maupun daerah mengumumkan adanya wabah virus baru yakni wabah Coro Virus yang dinilai cukup mematikan.

Sejak saat itu lah, Pemerintah pusat menerapkan berbagai aturan seperti pembatasan kegiatan masyarakat PSBB dan berbagai peraturan lainnya.

Imbas dari wabah pandemik virus tersebut sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan perekonomian masyarakat. Dimana banyak usaha menengah keatas maupun kebawah terpaksa gulung tikar imbas dari wabah penyakit tersebut.

Sementara berbeda dengan pengusaha atau perajin pembuat peti jenazah (peti mati) dimana di tengah pandemik mendapati permintaan yang cukup dari masyarakat.

Dikota Pematang Siantar sendiri permintaan peti mati untuk jenazah Covid-19 melonjak dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Ilhasil, mau tak mau pembuat peti mati harus bekerja ekstra untuk membuat 3 peti dalam sehari untuk memenuhi target yang dibutuhkan.

Hal itu dikatakan oleh M Tambunan salah seorang perajin pembuat peti mati saat diwawancarai wartawan, Rabu (7/7/2021) siang.

Bertepatan di tempat usahanya yang beralamat di Jalan Gereja, Kelurahan Martimbang, Kecamatan Siantar Selatan, M Tambunan menyebut sejak Januari 2021 permintaan peti mati di tempat usaha miliknya melonjak naik.

“Sebenarnya ada saja sih. Tapi lewat dari bulan 1 Januari 2021 semakin tambah. Biasa sehari satu, ini kita kerjakan mau sampai 3 peti jenazah bagi pasien Covid-19. Dimana permintannya berasal dari beberapa rumah sakit yang ada di Kota Siantar,” ujarnya.

Tambunan menuturkan, bahwa permintaan pihak rumah sakit tersebut juga pakai sistim kontrak. Selain itu peti yang dibuatkan cukup sederhana, yakni tidak pakai motif atau embel-embel lainnya dan untuk hanya model persegi panjang.

“Kalau masalah harga, itu rahasia kita. Tapi tetapnya kayak ditempat-tempat lain. Paling mahal ada diatas Rp 2 juta. Harga paling murahnya itu dibawa Rp 1,5 juta. Kayu kita gunakan jenisnya jenis kayu pinus karena seratnya nggak ada,” tukasnya.

Biasanya, untuk peti jenazah yang bukan mati karena Covid-19 kata Tambunan, selalu dihisai dengan pernak pernik. Bahkan juga menggunakan bentuk yang berbeda sesuai dari permintaan. Misalnya bentuk layang atau sudut lapan.

Jika sewaktu waktu banyak permintaan dari konsumen, M Tambunan mengaku akan selalu menyanggupi. Hal itu karena dia dibantu oleh dua anggota pekerjanya yang bertugas sebagai pemotong kayu hingga ikut mendesain bentuk.

Penulis: Matius Gea NSM

Teks Foto, Peti Mati yang sedang dalam proses pembuatan (foto/Matius Gea/NSM)











Leave a Reply

Your email address will not be published.