NASIONAL
SUARA MERDEKA
September 18, 2021

Ini Cerita Dahlan Iskan, Soal Bantuan Rp. 2 T Kepada Polda Sumsel, ” Banyak Amat “

JAKARTA NSM- Mantan Menteri BUMN Mengirimkan Rilis Keredaksi , melalui Grub NSM Phasivic, terkait Bantuan 2 T.

Pertanggal 28 July 2021, Dahlan Iskan Menulis tentang Bantuan Rp. 2 T yang dianggap ” Banyak Amat Bantuan itu”

Ini tulisan Dahlan Iskan yang kami terbutkan..

BUKAN main. Hanya itu yg bisa saya tulis. Kok ada orang menyumbang uang Rp 2 T. Orangnya tidak pernah dikenal. Sudah lama pula meninggal dunia.

Saya harus menghubungi Prof Dr dr Hardi Darmawan. Saya tidak punya nomor telepon beliau. Tapi saya kenal dgn kakak beliau. Yg sejak sebelum pandemi tinggal di Singapura.

Saya hubungi sang kakak. Saya pun mendapat nomor telepon Prof Hardi. Saya kirim WA ke beliau. Lalu Prof Hardi yg menelepon saya kemarin sore. Awalnya beliau saya ajak bicara dalam bahasa Mandarin. Tapi Prof Hardi mengatakan tidak bisa berbahasa ibunya itu. Maka kami pun menggunakan bahasa Indonesia.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Dr Eko Indra Heri dan Prof Dr dr Hardi Darmawan.

“Sumbangan itu betul ya, Prof? Kok fantastis sekali,” kata saya.

“Betul. Saya kenal baik keluarga itu,” jawab beliau.

Prof Hardi lantas bercerita. 3 hari lalu beliau dihubungi putri pengusaha itu. “Saya diminta ikut menyaksikan,” ujar Prof Hardi.

Prof Dr dr Hardi Darmawan adalah guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Juga aktivis di gereja Katolik Palembang. Termasuk menjadi pendiri lembaga pendidikan Katolik Caritas. Bahkan pernah mendapat penghargaan dari Sri Paus.

“Resminya bantuan itu nanti untuk kapolda, gubernur, atau Pemprov Sumsel?” tanya saya.

“Ke Kapolda Sumsel Pak Eko Indra Heri,” ujar Prof Hardi.

“Siapa yg menentukan bhw bantuan itu untuk kapolda Sumsel? Apakah atas arahan Prof Hardi?” tanya saya lagi.

“Bukan arahan saya. Itu langsung keinginan keluarga. Untuk diberikan ke kapolda,” jawab Prof Hardi.

“Bantuan itu nanti bentuknya uang kontan, cek, atau transfer? Atau berbentuk bantuan bahan makanan?”

“Bentuknya uang. Akan ditransfer besok,” jawab Prof Hardi kemarin sore. Berarti hari ini.

“Apakah boleh ditransfer ke rekening Polda? Juga apakah boleh dikirim ke rekening pribadi kapolda?” tanya saya sambil mengingatkan aturan yang ada.

“Masih diatur. Mungkin disiapkan rekening khusus.”

Ya sudah.

Saya tidak ingin bertanya lebih lanjut tentang itu. Ada orang yg ingin menyumbangkan uang besar kok ditanya prosedur. Yg penting diterima dulu. Semoga yg menyumbang itu bisa menyaksikan dgn bahagia dari surga di atas sana.

Akidi Tio, pengusaha yg menyumbang Rp 2 T itu, meninggal tahun 2009 lalu. Saat itu Tio berusia 89 tahun. Berarti 101 tahun hari ini. Beliau meninggal akibat serangan jantung. Makamnya juga di Palembang.

Istri Tio sudah meninggal lebih dulu: tahun 2005. Juga di Palembang. Dalam usia 82 tahun. Mereka punya 7 orang anak. Hanya seorang, putri, yg masih tinggal di Palembang. Yang lain tinggal di Jakarta. “Semua jadi pengusaha sukses,” ujar Prof Hardi.

Tio adalah pasien Prof Hardi. Istri Tio pasien istri Prof Hardi, yg juga seorang dokter. “Saya dan istri akrab dgn keluarga Pak Tio,” ujar Prof Hardi.

Menurut Prof Hardi, keluarga Pak Tio sudah bersahabat dengan Kapolda Irjen Eko Indra Heri jauh ke masa belakang. Yakni ketika Eko masih perwira dan masih bertugas di Direskrim Polda Sumsel. Ketika Eko pindah tugas menjadi kapolres di Langsa, hubungan itu tetap akrab. Tio adalah orang Aceh. Ia lahir di Langsa, Aceh Timur. Salah satu adiknya punya pabrik di Langsa.

Saya pun menghubungi Bupati Aceh Timur Rocky Hasbalah Thaib. Siapa tahu kenal dgn keluarga Tio. “Beliau sudah lama meninggalkan Langsa. Kami tidak kenal di sini. Yg jelas di Langsa memang banyak penduduk Tionghoa sejak dulu,” katanya.

Dilihat dari marganya (Tio), berarti Akidi dari suku Tiuchu. Di Palembang memang banyak juga suku Tiuchu. Laksamana Cheng Ho –dgn armadanya yg besar– cukup lama singgah di Palembang. Nama Palembang dalam bahasa Mandarin disebut Ju Gang (巨港) –pelabuhan besar. Sebagian armada Cheng Ho pilih menetap di Palembang –tidak meneruskan pelayaran ke Jawa dan kembali ke Tiongkok.

Prof Hardi sendiri lahir, besar, dan sekolah di Palembang. Pun gelar dokternya dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Setelah itu dr Hardi memperdalam ilmu penyakit tropik di Amerika Serikat. Yakni di New Orleans.

Prof Hardi ingat persis sosok Tio yg rendah hati. “Setiap datang ke tempat praktik saya selalu hanya mengenakan baju dan celana putih,” ujarnya.

“Tapi mengapa semua teman saya yg Tionghoa di Palembang tidak mengenal Tio?” tanya saya.

Itu, katanya, krn Tio sangat rendah hati. Juga tidak mau menonjol. “Beliau banyak sekali menyumbang. Tapi selalu hanya atas nama hamba Tuhan,” ujarnya.

Beliau, katanya, pernah punya pabrik kecap, pabrik mebel, kebun sawit, dan juga kontraktor bangunan.

Saya pun menghubungi teman lama. Nihil. “Saya tidak kenal nama itu sama sekali,” jawab Alex Noerdin –2 kali menjadi Gubernur Sumsel yg sukses.

Lalu saya menghubungi seorang mantan menteri asal Palembang. Jawabnya sama.

Saya juga menghubungi 5 orang pengusaha Tionghoa di sana. Tidak ada yg mengenal nama itu.

Saya hubungi juga seorang Tionghoa bermarga Tio. “Saya tidak tahu siapa beliau. Tapi sbg sesama marga Tio saya ikut bangga,” katanya.

Berarti pengusaha ini memang luar biasa rendah hatinya. Low profil high profit. Dan yg seperti itu banyak sekali di lingkungan masyarakat Tionghoa.

Saya punya banyak teman Tionghoa seperti itu. Sehari-2 hanya pakai sandal. Bajunya pun lusuh dan dari kain yg biasa-2 saja. Namanya tidak pernah disebut di mana-2. Tapi uangnya luar biasa banyaknya.

Saya malu kalau pakai baju bagus di depan mereka. (Dahlan Iskan)











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *