NASIONAL
SUARA MERDEKA
December 6, 2021

Bangsa Indonesia Telah Menganggap Mahapatih Gajahmada Sebagai Simbol Patriotisme dan Persatuan Nasional


JAKARTA NSM, Menurut Pengacara R Mas MH Agus Rugiarto SH bahwa Mahapatih Gajahmada adalah sosok Panglima atau Mahapatih dari Kerajaan Majapahit. Dan Tokoh Paling berpengaruh dalam perjalanan panjang Sejarah Kerajaan Majapahit Hingga Menuju menuju puncak kejayaaannya.

Raden Agus Katakan Pula Tokoh Gajahmada dikenal sebagai sosok patih perkasa yang setia kepada pemangku takhta Para Raja Majapahit untuk terus menjaga keutuhan dan melebarkan pengaruh kerajaan.

Salah satu peranan Patih Gajahmada Menurut Agus pada masa kejayaan Majapahit dengan menyatukan wilayah nusantara, hingga Malaysia, Thailand dan Negara Tetangga Lainnya seperti yang diucapkannya dalam Sumpah Palapa.

Selanjutnya Ketum LBH Phasivic ini katakan Jasa-jasanya pun masih diagungkan oleh masyarakat Indonesia di masa sekarang, diantaranya Burung Garuda, Bhayangkara Bhayangkara. Kartiika, Wira , Setya, Darma,Candra, Andika dan lain sebagainya berasal dari Produk Majapahit Gajahmada.

Hingga Cucu Sultan Agung Partika Candra ini berani Mengklaim Negara Indonesia Masih Mengingat Jasa Kerajaan Majapahit, dibuktikan 3 Simbol masih digunakan Negara, TNI dan Polri.

” Wajar saya setiap Bicara Soal Ibu Pertiwi, Sekedar mengingatkan Para Penguasa Pemerintah sekarang, ” Tegas Panglima Besar Laskar Mahapatih Gajahmada.

Aguspun Mengatakan Bahwa Bangsa Indonesia telah menganggap Mahapatih Gajahmada Sebagai pahlawan, simbol patriotisme dan persatuan nasional.

“Meski terbilang cukup misterius, kisah hidup, perjalanan karier, dan perjuangannya didapatkan dari beberapa sumber, terutama dari Babad Gajah Mada, Naskah Usana Jawa, juga Babad Arung Bondan,” Ujar Komisaris Utama PT NSM ini .

Seperti apa kehidupan dan asal-usul Gajahmada berdasarkan naskah-naskah tersebut?

1. Gajahmada Lahir Dirahimkan lahir dari Seorang Ibu

Menurut Pandangan Komisaris NSM,

Gajahmada dilahirkan di Pulau Jawa bukan Bali, dan Lahir dari Rahim Ibu ( Ada Bapak Ibu), jika melihat Sosok Gajahmada merupakan
Turunan dari Raja Tertuah di Indonesia, dan diberikan Wahyu oleh Allah SWT akan menjadi orang hebat kedepannya.

Dikisahkan bahwa Gajah Mada lahir dengan cara memancar cahaya Roh Para Dewata sehingga Gajahmada dipercaya lahir adanya ayah dan ibu.

Naskah tradisional nusantara sering menegaskan legitimasi tentang kelebihan pada diri seseorang melalui mitos, sehingga tokoh yang dimaksud memang pantas dijunjung tinggi dan dihormati.

Sang tokoh biasanya digambarkan sebagai anak seorang dewa atau bahkan penjelmaan dewa sendiri yang diturunkan untuk Menyelamatkan Rakyatnya saat itu .

Keajaiban demi keajaiban adi kodrati selalu mengiringi sejak hari kelahiran, masa kanak-kanak, dewasa, bahkan hingga hari kematiannya.

Penggambaran seperti ini umum berlaku pada sistim kepercayaan masyarakat Hindu/Buddha pada masa itu sehingga tafsir atau rasionalisasinya diperlukan agar isi naskah dapat dijadikan rujukan.

2. Babad Arung Bondan

Kitab Jawa Pertengahan Babad Arung Bondhan menawarkan penjelasan berbeda mengenai asal-usul Gajahmada.

Sedangkan dalam berbagai prasasti dan Kakawin Nagarakertagama sebagai bukti yang otentik disebutkan bahwa Gajahmada berperan dalam masa awal dan masa kejayaan Majapahit dalam periode kekuasaan Hayam Wuruk.

Hal yang paling menarik dalam kitab Babad Arung Bondan dan dapat dijadikan interpretasi lebih lanjut adalah pernyataan bahwa Gajahmada merupakan anak dari seorang Mahapatih

Adapun nama patih yang menjadi ayah Gajah Mada masih belum akurat, sebab dalam kisah-kisah tradisional nama tokoh sering berganti karena diceritakan secara berulang-ulang dalam kurun waktu yang berbeda.

3. Babad Gajahmada

Diceritakan bahwa ada seorang pendeta muda bernama Mpu Sura Dharma Yogi yang memiliki istri bernama Patni Nari Ratih, istri yang diberikan oleh gurunya Mpu Raga Gunting atau yang dijuluki Mpu Sura Dharma Wiyasa.

Mpu Sura Darma Yogi membuat huma di sebelah selatan Lembah Tulis sedangkan Patni Nari Ratih tetap tinggal di pertamanan, hanya sesekali ia menengok sang suami di huma yang baru dibuat.

Dewa Brahma jatuh cinta kepada Patni Nari Ratih karena parasnya yang cantik.

Peristiwa tersebut Nari Ratih adukan kepada sang suami. Sehingga akhirnya mereka pergi mengembara selama berbulan-bulan lamanya.

Ketika sang bayi yang ada dalam kadungan sudah waktunya untuk lahir, mereka tiba di desa Mada yang terletak di kaki Gunung Semeru.

Lahirlah sang bayi laki-laki dengan diiringi peristiwa alam yang menandakan bahwa sang bayi kelak akan menjadi tokoh penting.

Bayi laki-laki tersebut diasuh oleh kepala Desa Mada, sedangkan kedua orangtuanya pergi bertapa di puncak Gunung Plambang untuk memohon keselamatan dan kejayaan bagi si bayi.

Dewata mengabulkan permohonan tersebut dengan mengatakan bahwa kelak si bayi akan menjadi orang yang dikenal di seluruh nusantara.

Bertahun-tahun berlalu, Mahapatih Majapahit datang ke desa Mada dan mengajak anak kepala desa bernama Mada yang sekarang beranjak remaja untuk ikut ke Majapahit dan mengabdi kepada raja.

Mahapatih Majapahit kemudian menikahkan Mada dengan putrinya yang bernama Ken Bebed, lalu membantu Mada untuk menggantikan kedudukannya sebagai Mahapatih Amangkubumi Majapahit.

Dalil itu tidak bisa dibuktikan, karena hal itu merupan dongeng dari Masyarakat Desa Mada.

Dan Berkat Mahapatih Amangkubumi Mada, Majapahit berhasil mengembangkan kekuasaannya hingga banyak raja dari luar Pulau Jawa yang tunduk kepada Raja Majapahit (Muljana 1983:175), dalil itu tidak bisa dipercaya

Cita-cita Mahapatih Gajahmada

Saat dilantik menjadi mahapatih, Gajahmada mengucapkan sumpahnya yang terkenal dengan sebutan Sumpah Palapa.

Isi Sumpah Palapa, yaitu:

“Lamun huwus kalah nusantara, ingsun amukti palapa. Lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Baki, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

(Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa (kesenangan). Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pyulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa).

****











Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *